Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sawahan, Hamparan Sawah yang Dipilih Belanda untuk Permukiman

Mardi Sampurno • Sabtu, 31 Desember 2022 | 03:04 WIB
LABEL MASA LALU: Rumah Sakit Panti Waluya di Jalan Nusa Kambangan, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, masih mencantumkan nama Sawahan.
LABEL MASA LALU: Rumah Sakit Panti Waluya di Jalan Nusa Kambangan, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, masih mencantumkan nama Sawahan.
NUR Salim, salah satu sesepuh Kampung Sawahan, kini sudah berusia 82 tahun. Namun dia sama sekali tidak pernah tahun bahwa di kampungnya pernah ada hamparan sawah yang sangat luas. Sejak dia lahir, Kampung Sawahan sudah dipadati rumah-rumah

”Memang mbah saya pernah bercerita bahwa wilayah Sawahan ini pernah ada persawahan yang luas,” ujarnya. Wajar kalau Nur Salim tidak pernah tahu bentuk sawah zaman dulu di Kampungnya. Berdasar pola persebaran permukiman di Kota Malang pada 1914 (Staadgemeente Malang 1914-1939), disebutkan bahwa Sawahan menjadi salah satu daerah permukiman orang Eropa. Pada saat itu, orang-orang Belanda mulai membangun rumah-rumah di kawasan Taloon, Tongan, Sawahan, dan sekitarnya.

Mereka juga menempati kawasan Kajoetangan, Tjlaket, Oro-Oro Dowo, Klodjen Lor, dan Rampal. Kini, Sawahan sudah tidak digunakan sebagai nama yang secara administratif mewakili sebuah wilayah. Hanya sebuah kampung yang melingkupi RW 4, RW 6, RW 10, dan RW 11 Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen. Itu pun hanya dua RW yang sepenuhnya masuk wilayah Sawahan. Yakni RW 4 dan RW 11. Nur Salim yang pernah menjadi ketua RW 11 mengatakan, dulu Sawahan dihuni dan dikuasai oleh pribumi. Awalnya, persawahan yang sangat luas itu hanya milik satu orang saja.

Permukiman yang berdiri di atas lahan persawahan itu sebenarnya hanya milik satu keturunan saja. Sayangnya, Salim tidak mengetahui pasti siapa orang pertama yang mendirikan rumah di Sawahan. Salim juga mengatakan bahwa tidak ada sosok tertentu yang berperan dalam babat alas Kampung Sawahan. Semua terjadi secara natural. Yang pasti, keberadaan lahan sawah yang sangat luas itu adanya sebelum zaman Kolonial Belanda. Ketika Belanda masuk ke Kota Malang, mereka mulai mendirikan bangunan-bangunan untuk permukiman.

Misalnya, bangunan yang saat ini difungsikan sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Panti Waluya Malang. Lokasinya di Jalan Yulius Usman Nomor 62. Dulu, lanjut Salim, gedung Stikes Panti Waluya merupakan rumah orang Belanda yang kemudian menjadi aset desa. Bahkan dia ikut memberikan izin alih fungsi bangunan itu untuk digunakan sebagai tempat pendidikan. Bangunan lain yang didirikan Belanda di Sawahan adalah Rumah Sakit RKZ. Saat ini, sebagian dari bentuk bangunan itu masih dipertahankan. ”Dulu Rumah Sakit RKZ itu juga dibangun oleh Belanda, tapi dikelola bersama dengan orang pribumi,” ungkapnya. Pada Zaman Belanda, Sawahan juga sempat menjadi nama jalan (Sawahanstraat).

Namun sejak 1960-an, nama itu diubah menjadi Jalan Yulius Usman. Meski demikian warga Sawahan masih tetap menggunakan nama itu sebagai bagian dari identitas mereka. Seperti dituturkan Nur Indayati, warga RT 4 RW 11 Kelurahan Kasin. Dia mengakui bahwa saat ini sudah tidak ada tanda khusus yang menunjukkan bahwa kawasan tempat dia tinggal merupakan Kampung Sawahan. Namun ada beberapa rumah makan yang sudah dikenal sebagai identitas Sawahan secara tidak langsung. Yakni Warung Soto dan Rawon Kiroman.

”Dulu, kalau ada orang tanya di mana Sawahan, pasti Warung Soto dan Rawon Kiroman itu jadi ancer-ancernya,” ujarnya. Sayang, warung itu tidak dikelola secara turun menurun. Hingga saat ini sudah tiga kali berpindah tangan. Perempuan 60 tahun itu juga menyebut beberapa lokasi ikonik Sawahan yang sudah beralih fungsi. Misalnya SPBU di Simpang Tiga Jalan Yulius Usman yang dulu merupakan terminal bus, dokar, bemo, dan angkutan lain. ”Terminal itu sangat ramai karena menjadi tempat turun pedagang sayur dan buah dari Kabupaten Malang,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua RW 11 Kelurahan Kasin Taufik Hidayat mengatakan, di wilayahnya ada 7 RT. Setiap RT rata-rata memiliki 25 KK. ”Total penduduknya sekitar 350 sampai 400 jiwa,” ujarnya. Taufik juga menyebut tidak ada tradisi yang khas dari masyarakat Sawahan. Hanya, setiap satu bulan sekali warga melakukan doa bersama atau istighotsah. ”Namanya istighotsah jagat. Jagat merupakan singkatan yakni Jagalan, Kasin, dan Tongan. ”Itu tidak lepas dari kegiatan yang diikuti oleh masyarakat dari tiga wilayah tersebut,” tandasnya. (dre/fat) Editor : Mardi Sampurno
#sawahan #Kota Malang