Ketua RW 03 Polehan Joko Purwandi mengatakan, kondisi tanah di tepi sungai sudah miring akibat tergerus aliran air sungai terusmenerus. Dia khawatir longsor yang terjadi November lalu dan tahun 2021 lalu akan terulang lagi. ”Tanah sudah tergerus sekitar 3 meter dan menghilangkan dua rumah,” keluh Joko Purwandi, kemarin.
“Kalau pohon lamtoro di tepi sungai itu tumbang, kemungkinan besar akan terjadi longsor susulan. Dan berpotensi menghilangkan satu rumah,” tambahnya. Selain terancam longsor susulan, kondisi jembatan cemplong juga sudah membahayakan. Fondasi jembatan sudah menggantung. “Sebenarnya kami sudah ajukan bantuan ke pemkot, tapi jawabannya tidak menyanggupi karena biaya yang dikeluarkan cukup besar,” katanya.
Kemudian pihaknya mengajukan bantuan ke pemerintah provinsi (Pemprov) Jatim. ”Jadi harus menunggu dari pemprov, dan kita selalu dijanjikan dana akan turun bulan April, tapi sudah lewat banyak April masih belum ada bantuan,” katanya. Warga lain, Budi Santoso berharap segera ada bantuan, misalnya pembangunan plengsengan. Atau perbaikan goronggorong yang bocor.
“Sampai saat ini hanya ada bantuan terpal,” kata dia. Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang R. Dandung Djulharjanto menanggapi keinginan warga mendapatkan bantuan.
“Terkait goronggorong itu sudah dibagi. Ada yang menjadi wewenang kami dan ada yang di luar wewenang kami,” katanya. Untuk proyek yang di luar kewenangan pemkot, perbaikannya dilakukan secara gotongroyong. Biasanya hal itu berlaku bagi proyek yang dibangun atas inisiatif warga sendiri.(kr2/dan) Editor : Mardi Sampurno