Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Masa Lalu Polowijen Lekat dengan Cerita Ken Dedes

Mardi Sampurno • Selasa, 3 Januari 2023 | 15:18 WIB
Photo
Photo
POLOWIJEN yang kini digunakan untuk penamaan kampung wisata sekaligus kelurahan memiliki dua versi asal-usul nama. Namun, sebelum menjadi Polowijen, kawasan itu pernah mengalami beberapa perubahan nama.

Mulai dari Panawiyan yang kemudian menjadi Panawijyan, atau Panawijen yang kemudian menjadi Polowijen. Nama Panawijyan diungkapkan akademisi Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Ismail Lutfi. Dalam tulisan Desadesa Kuno di Malang Periode Abad Ke-9 Sampai 10 Masehi, Ismail menduga Polowijen adalah wanua i panawijyan. Yakni sebuah desa di satuan wilayah (watek) Kanuruhan. Nama Panawijyan tercantum dalam Prasasti Wurandungan 869 Saka. Selain Panawijyan, terdapat penyebutan Panawijen yang tertulis di Kitab Pararaton. Dalam kitab itu dijelaskan bahwa keberadaan Desa Panawijen sangat penting karena berada di perguruan (mandala) yang dipimpin pendeta Buddha bernama Mpu Purwa.

Sang pendeta memiliki putri cantik bernama Ken Dedes. Nama perempuan itu sangat dikenal dalam percaturan sejarah Kerajaan Tumapel dan Singasari. Terkait perubahan bunyi untuk menyebut Polowijen, Ismail menyatakan hal seperti itu sudah biasa terjadi. Perubahan bunyi pada vokal dari ”a” menjadi ”o” disebabkan perubahan bunyi abjad (susunan aksara) yang digunakan dari abjad Jawa Kuna menuju Jawa Baru. Senada dengan Ismail, pengamat sejarah Kota Malang Suwardono juga menyatakan nama Panawijen diambil dari Prasasti Wurandungan dan Kitab Pararaton. Dia mengatakan, konsonan ”n” mereduplikasi menjadi ”l”, sehingga disebut Polowijen. Dengan demikian, tidak ada arti khusus dari nama Panawijen. Sementara itu, versi murni Polowijen diungkapkan dalam buku Toponim Kota Malang. Buku itu menyebutkan bahwa Polowijen berasal dari kata PalaWijen.

Hal tersebut didasarkan atas penjelasan pada buku De Nuttige Planten Van Nederlandsch Indie (Deel IV) yang ditulis ahli botani Karel Heyne. Namun, Pala-Wijen yang dimaksud bukanlah tumbuhan pala. Melainkan pohon wijen yang merupakan sumber minyak nabati atau minyak wijen. Tanaman itu bisa tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1.200 mdpl. Di Jawa, ada dua jenis wijen yang dibudidayakan. Yakni wijen hitam dan putih. Versi yang sedikit berbeda disampaikan Aspari. Meskipun kini tinggal di Karangploso, pria yang akrab disapa Mbah Ri itu tumbuh besar di Polowijen selama 74 tahun. Keluarganya sudah turun-temurun mendiami Kelurahan Polowijen, tepatnya di Jalan Cakalang RT 4 RW 1 (sekarang menjadi RW 10).

Mbah Ri membenarkan bahwa penyebutan Polowijen didasarkan pada tumbuhan wijen yang dulu banyak ditemukan di kawasan itu. Menurut cerita yang dia dapatkan, tumbuhan wijen bisa dimanfaatkan sebagai anak panah untuk kebutuhan perang. Tempat Tinggal Perempuan Cantik yang Diperebutkan Mbah Ri menuturkan, dulu Polowijen adalah pedukuhan. Meliputi Dukuh Lok Bangle (kini RW 01), Karangjambe (kini RW 02), Watukenong (kini RW 03), dan Santrean (RW 04). Dulu juga ada cerita romansa yang berkembang di Polowijen. Cerita itu terkait perempuan bernama Ndedes yang merupakan putri pemuka agama di Lok Bangle. Karena kecantikannya, sejumlah lelaki tertarik untuk meminangnya. Salah satunya adalah Joko Lola dari Dinoyo. Saat hari pernikahan, Joko Lola dan Ndedes diarak ke sebuah kali.

Namun, karena tidak mau menikahi Joko Lola, Ndedes menangis di tepi kali sehingga kali tersebut disebut Kali Mewek. Cerita serupa juga tercantum dalam Jejak-Jejak Arkeologis di Polowijen: Korelasinya dengan Naskah Kuna, Prasasti, dan Tradisi Tutur. Tapi, kisah yang dituturkan dalam tulisan ini sedikit berbeda. Joko Lola disebut memiliki wajah yang buruk rupa. Namun, karena kesaktiannya yang tinggi, wajah buruk tersebut hanya terlihat jika pagi tiba. Karena merasa ada yang aneh dengan Joko Lola, Putri Ndedes minta dibuatkan sumur yang dalamnya mencapai 1 windu (8 tahun) perjalanan. Mengetahui permintaan itu, Joko Lola menyanggupinya.

Dia mampu membuat sumur dalam waktu singkat. Pernikahan antara Putri Ndedes dan Joko Lola pun disepakati. Namun, keluarga Joko Lola meminta agar pertemuan pengantin dilakukan tengah malam untuk menutupi wajah buruk Joko Lola. Sayangnya, sebelum pertemuan berlangsung, para gadis Panawijen membunyikan tempat nasi dari anyaman bambu tanda pagi tiba. Bahkan, ayam-ayam juga mulai berkokok. Tak lama kemudian, tampak wajah Joko Lola yang buruk. Karena terkejut, Putri Ndedes kabur melalui sumur yang sudah dibuat. Melihat Putri Ndedes yang kabur, Joko Lola mengumpat kepada para gadis Panawijen yang menyembunyikan wadah nasi. Dia mengutuk para gadis Panawijen tidak bisa menikah hingga usia lanjut.

Joko Lola lalu ikut menceburkan diri ke sumur. Dari sana kemudian berkembang sebuah mitos. Yakni larangan bagi orang asli Dinoyo dan Polowijen agar tidak saling menikahi. Sebab, jika dilanggar akan timbul musibah. ”Bahkan, dulu ada tiga keluarga dari Dinoyo dan Polowijen yang meninggal karena anak-anak mereka melanggar aturan tersebut,” terang Mbah Ri. Penuturan lain datang dari Sulkan Fauzi, warga setempat. Menurut dia, Ndedes adalah Putri Ken Dedes yang selama ini dikenal di kalangan masyarakat. Karena kecantikannya, Ken Dedes tak hanya memikat hati Joko Lola, tapi juga pria-pria lain. Seperti halnya Prabu Salio atau raja dari Kerajaan Mendoroko, Singosari. Sang prabu dijuluki Maling Angguno atau maling sakti yang sempat menculik Ken Dedes lewat bawah tanah. Ada pula Tunggul Ametung yang merupakan raja dari Kerajaan Tumapel.

Dan yang terakhir adalah Ken Arok yang meminang Ken Dedes dengan tipu muslihat. Memasuki masa Islam, di Polowijen juga berkembang kisah mengenai Mbah Assyuro dan Mbah Jibris. Keduanya merupakan dua bersaudara dari Pasuruan yang melakukan babat alas di Polowijen. Menurut Fauzi, pada masa Islam Polowijen dikenal sebagai kawasan angker. Orang yang masuk ke desa itu bisa hilang atau meninggal. Sebab, dulu Polowijen menjadi pusat pendidikan para Brahmana. Namun, image angker berubah setelah Mbah Assyuro dan Mbah Jibris datang dengan membawa lima pusaka. ”Mereka datang bawa 3 tombak yang disebut solot, gondosuli, dan konang. Ada juga pusaka berupa keris pasopati dan keris cundrikpitek,” ujar pria kelahiran tahun 1975 itu.

Dikutip dari buku Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang, terdapat peninggalan-peninggalan masa lalu di Polowijen. Antara lain watu kenong dan lumpang batu. Ada juga sumur tua yang kini berada di dalam rumah Siti Muidah di RT 1 RW 3. Kabarnya, sumur yang dalam itu bisa menembus hingga Sumur Windu tempat Ndedes atau Putri Ken Dedes melarikan diri. (mel/fat) Editor : Mardi Sampurno
#polowijen #Desa Kuno di Malang #kampung wisata