Seperti diberitakan, Lapas Lowokwaru mempunyai beberapa unit kemandirian yang dikelola oleh WBP. Di antaranya adalah unit kemandirian yang memproduksi kerajinan tangan, pertanian jamur dan anggrek, gorengan, pembuatan tempe, serta batik shibori. Juga ada budi daya maggot, ternak ayam, hingga pojok kuliner.
Kepala Lapas Lowokwaru Heri Azhari mengatakan, pada 2022 lalu pihaknya menargetkan penerimaan sebesar Rp 93 juta. Karena berhasil menyetor Rp 86 juta untuk negara, berarti realisasinya sekitar 92 persen dari target. Pendapatan ini cenderung menurun jika dibandingkan tahun 2021 lalu.
Saat itu, lapas berhasil meraup Rp 93,5 juta dari target Rp 91,7 juta. Penurunan itu bisa jadi karena kondisi saat ini yang masih dibayang-bayangi pandemi Covid-19. Akibatnya, penjualan produk lapas turut terdampak.
“Namun tahun 2022 lalu kami berhasil menjadi 10 UPT dengan realisasi PNBP terbesar setelah Lapas Kelas I Medan,” sebut mantan Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh itu, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Heri menjelaskan, capaian PNBP tidak dapat dilepaskan dari keberadaan unit kegiatan kemandirian warga binaan yang terus dikembangkan. Total terdapat 17 unit kemandirian. Dari seluruh unit yang tersedia, yang memiliki andil besar dalam penerimaan negara adalah bimbingan kerja pertanian jamur. (mel/dan) Editor : Mardi Sampurno