Dia terpaksa merasakan tidur di atas dinginnya lantai penjara karena kasus penyalahgunaan narkotika. Namun, Nopek mengaku status narapidana yang kini dia sandang membawa banyak hikmah. Salah satunya, mengetahui bahwa bakat melawak yang dia miliki bisa diasah dan menjadi bekal hidup di masa mendatang. “Kalau sama teman-teman, saya memang yang paling rame. Sering buat semua ketawa. Tapi awalnya saya pikir ya wis biasa aja,” ujarnya
Sampai pada suatu ketika, hobi bercanda itu mengantar Nopek punya kesempatan tampil di berbagai panggung stand up commedy yang diselenggarakan lembaga pemasyarakatan. Bahkan dia mampu menjuarai dua event stand up comedy. Di tingkat lokal, Nopek pernah menjuarai lomba yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional pada Juli 2022. Sementara di tingkat nasional, dia menjadi juara 1 lomba yang diselenggarakan Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM bekerja sama dengan Second Chance Foundation pada Desember 2022. Perempuan asli Banyuwangi itu mengaku belajar stand up comedy secara otodidak.
Kesempatan melawak pertama kali datang saat dirinya diminta tampil spontan dalam sebuah kegiatan internal dengan semua WBP. ”Saat itu ada petugas yang bertanya siapa yang bisa stand up comedy. Terus teman-teman menunjuk saya,” ucapnya. Dari penampilan spontan itu, petugas LPP Malang mengetahui potensi yang dimiliki Nopek. Sehingga, saat ada event kompetisi stand up comedy, Nopek selalu ditunjuk untuk mewakili. Pada lomba pertamanya, dia harus bertarung dengan komika dari kalangan umum. Lomba itu digelar oleh BNN Kota Malang pada Juli 2022. ”Pesertanya ada yang dari komunitas, mahasiswa, bahkan pelajar juga ada,” ucapnya. Karena yang mengadakan lomba adalah BNN, perempuan kelahiran 24 November 1995 itu pun membawakan materimateri terkait narkotika.
“Sesuai dengan tema yang disediakan oleh panitia tentang edukasi kepada masyarakat tentang bahaya narkotika,” imbuhnya. Bagi Nopek, tentu tidak sulit untuk membawakan materi tersebut. Sebab dia sudah paham betul seluk beluk narkotika. Mulai dari jenis hingga tiap-tiap efeknya. ”Saya memang anak bandel. Dari mulai SD sudah merokok. Saat SMP sudah mulai coba-coba pake narkotika. SMA malah sudah jadi pengedar,” tuturnya. Tak heran jika Nopek merasa ringan dengan materi itu. Ditambah, materi stand up comedy paling mudah adalah mengangkat pengalaman pribadi. Nopek mengaku pengalaman kelam dan bandel di masa lalu selalu menjadi materi andalan. Terutama pengalamannya beberapa kali meracuni sang Ayah dengan pil koplo.
Nopek mengaku pernah sangat kesal dengan sang Ayah. Utamanya Setelah mengetahui narkotika yang seharusnya dia jual dibuang oleh sang Ayah. “Bapak tau saya mainan seperti ini. Sering kali diingatkan, tapi saya yang bandel,” ungkapnya. Mengetahui tindakan sang Ayah, Nopek pun marah. Ia kemudian memasukkan beberapa pil koplo di gelas yang berisi kopi milik ayahnya. Nopek ingat betul peristiwa itu terjadi pada hari Jumat. Sebab, setelah meminum kopi itu, sang ayah bergegas mandi untuk salat Jumat di masjid. “Efek dari obat itu kan ilusi. Waktu itu bapak saya berangkat salat Jumat pakai sarung dan songkok sambil bawa peralatan pancing,” tuturnya sambil tertawa. Saking bandelnya, Nopek mengerjai ayahnya tak hanya saat marah.
Dia mengaku beberapa kali melakukan hal itu. Pernah suatu ketika, sang ayah yang lapar malah mengambil gelas yang telah diisi air putih. Lantas sang ayah mengisi gelas berisi air itu dengan nasi. Lagi-lagi itu akibat pil koplo yang dimasukkan Nopek ke minuman ayahnya. Setiap kali membawakan materi kenakalan masa lalu, tawa penonton selalu pecah. Termasuk pengalamannya saat berada dalam pengaruh narkotika.
Misalnya, Nopek pernah mengendarai sepeda motor dan merasa jalan yang dilaluinya semakin sempit. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti, turun dari sepeda motornya dan putar balik. Tawanya kembali terdengar. Namun, setiap kali menertawakan masa lalunya, wajah Nopek juga menyiratkan penyesalan. Dia mengaku bisa kuat sampai saat ini juga karena sang ayah. ”Saya kuat karena tahu bapak menunggu saya untuk pulang,” imbuhnya.
Apalagi, ibunya sudah lebih dulu berpulang pada 2021 silam. Kini, anak ketiga dari empat bersaudara itu kerap menyisipkan pesan dalam setiap penampilannya. Yakni, tak ada yang menguntungkan dari bergelut dengan narkotika. Hanya akan buang-buang waktu. Yang tersisa di masa depan juga tinggal penyesalan. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno