20 Seniman Sampaikan Kritikan Lewat Karya

Mardi Sampurno • Dipublikasikan Rabu, 11 Januari 2023 | 18:53 WIB
BENTUK EKSPRESI: Mural dan kalimat kritikan tersaji di Gedung Dewan Kesenian Malang, sejak Senin lalu (9/1). Pameran itu berlangsung selama tiga hari.- Darmono/ Radar Malan
BENTUK EKSPRESI: Mural dan kalimat kritikan tersaji di Gedung Dewan Kesenian Malang, sejak Senin lalu (9/1). Pameran itu berlangsung selama tiga hari.- Darmono/ Radar Malan
MALANG KOTA - Kritik terhadap pengusutan tragedi Kanjuruhan terus bergema. Kali ini tidak datang dari jalan raya, melainkan lewat karya seni. Ada 20 seniman yang sejak Senin lalu (9/1) menampilkan berbagai karya di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM). Pameran itu punya tema ”menyerang kota”.

Selain menyinggung tragedi Kanjuruhan, karya dari para seniman itu juga menggambarkan problem-problem perkotaan. Seluruh karya dipajang di dua ruangan. Di ruangan pertama, tertempel poster-poster yang memuat wajah almarhum Munir, pejuang HAM asal Malang. Di ruangan itu juga tertempel poster-poster yang berkaitan dengan tragedi Kanjuruhan. Di ruang satunya lagi, terdapat mural dan tulisan bernada kritik terhadap pengusutan tragedi Kanjuruhan. Koordinator pameran Dapeng Gembiras mengungkapkan, pameran itu memang tidak hanya menyajikan soal tragedi Kanjuruhan saja. Sebab pameran itu dibuat sebagai wadah bagi para seniman untuk mengekspresikan diri terhadap gerakan kemanusiaan, problem perkotaan, dan penindasan. ”Misalnya pada karya yang menampilkan tragedi Kanjuruhan. Seniman ingin menyampaikan bahwa sepak bola tak hanya soal bisnis, namun juga prestasi,” terang Dapeng.

Selain poster dan mural, Dapeng menyebut ada karya-karya lain yang turut ditampilkan dalam pameran selama tiga hari itu. Misalnya saja teater, musik, hingga performance art. Seniman yang berpartisipasi pun tak hanya dari Kota Malang. Ada pula yang berasal dari Jogjakarta dan Surabaya. ”Setiap seniman punya cara yang berbeda-beda dalam menyikapi peristiwa. Oleh karena itu, karya yang ditampilkan di pameran ini pun beragam,” imbuh pria asal Malang itu. Ditanya mengenai animo masyarakat yang berkunjung, Dapeng mengatakan bahwa jumlah pengunjung cukup banyak.

Kebanyakan datang karena ingin tahu apa saja yang dipamerkan. Khususnya mencari tahu karya-karya mengenai tragedi Kanjuruhan. ”Masyarakat yang berkunjung juga bisa menuliskan pemikirannya secara langsung di dinding. Jadi karya-karya di sini bersifat interaktif, karena semua bisa mencurahkan pemikirannya,” papar dia. Salah satu yang turut berpartisipasi dalam pameran yakni Arief Wibisono. Dia merupakan pendiri Arema Arsip.

Dalam pameran tersebut, dia menampilkan foto dan artikel tentang Tim Arema yang sudah dia arsipkan sejak tahun 2000. Bagi Bison, sapaan akrabnya, koleksi tersebut juga merupakan wujud perjuangan. Total, ada sebanyak 30 dokumentasi foto dan artikel yang ditampilkan dia. Salah satunya yang memuat pertandingan di Stadion Gajayana. Dari dokumentasi yang dikumpulkan itu, Arief tahu bahwa dulu pengamanan suporter di lapangan lebih manusiawi. ”Sebagai contoh, kalau dulu pakai air, sekarang gas air mata. Ini seperti kemunduran,” kata dia. (mel/by) Editor : Mardi Sampurno
Tragedi Kanjuruhan Jalan Raya lewat karya seni malang kota