Widjaja menyebut pembongkaran itu akan dilakukan secepatnya. Sebab itu berkaitan dengan rekayasa lalu lintas di 11 ruas jalan, yang ikut terimbas one way Kajoetangan Heritage (selengkapnya baca grafis). Widjaja menyampaikan, sosialisasi terus dilakukan. Dia mengaku sudah melakukan dua audiensi dalam skala besar yang mempertemukan pihaknya dan masyarakat. Pada 4 Januari lalu, sosialisasi dilakukan kepada perwakilan pengurus delapan trayek angkutan umum.
Kemarin (11/1), Dishub kembali melakukan pertemuan dengan perwakilan warga dan pelaku usaha di sekitar Kajoetangan Heritage. Pihaknya menjadwalkan pertemuan kembali dengan perangkat Kecamatan Klojen hari ini (12/1). Pertemuan itu masih terkait skema satu arah. ”Barangkali ada alternatif yang belum terakomodasi akibat dari dampak satu arah ini. Karena itu kami terus bahas dalam setiap audiensi,” imbuhnya. Secara umum, Widjaja mengatakan bila skema satu arah itu merupakan kebutuhan. Untuk mematangkan rekayasa, pihaknya sudah menggandeng para ahli dan forum lalu lintas. ”Karena itu, audiensi dilakukan bukan untuk menolak, melainkan untuk menambah informasi terkait hal-hal yang di luar pertimbangan kami,” kata dia.
Rencana penerapan satu arah itu membuat cemas beberapa pihak. Selain dikhawatirkan membawa dampak pada ekonomi, ada kekhawatiran terkait perpindahan titik kemacetan. Seperti disampaikan Lurah Kauman, Kecamatan Klojen Agus Hartono. Dia mengaku banyak menerima aspirasi dari masyarakat dan pengusaha yang berada di sekitar Kajoetangan Heritage. Dari pengusaha, Agus mengatakan mendengar banyak kekhawatiran terkait dampak ekonomi dari skema satu arah itu. Namun, kekhawatiran tersebut berhasil ditepis setelah beberapa kali dilakukan audiensi. ”Apalagi sifatnya kan memang uji coba.
Jadi kita tidak bisa tahu sebelum dicoba,” kata dia. Namun, Agus menyebut secara umum warganya kini mulai sepakat dengan skema tersebut. Namun ada satu masalah lainnya. Yakni penertiban parkir di sepanjang Jalan Arjuno. Warga khawatir nantinya titik kemacetan akan berpindah ke ruas jalan itu. Mengingat di sana sering digunakan untuk parkir sembarangan. ”Kami menyampaikan untuk Jalan Arjuno yang nantinya juga akan menjadi satu arah itu akan ada pengecualian pada saat jam-jam genting. Seperti jam berangkat dan pulang sekolah,” kata dia. Karena itu, masyarakat meminta agar parkir di sepanjang Jalan Arjuno bisa ditertibkan.
Selanjutnya, masyarakat meminta agar dalam pelaksanaan satu arah itu ada pemberitahuan sejak jauh-jauh hari. ”Yang penting tidak mendadak,” imbuhnya. Kekhawatiran serupa juga disampaikan Lurah Kiduldalem, Kecamatan Klojen Atiyatul Husna. Dia turut menyinggung tentang penertiban area parkir. Perempuan yang akrab disapa Iik itu mengaku sudah mengajukan permohonan agar dilakukan menertibkan parkir di depan Ramayana. ”Sebab di sana parkir motor saja sampai dua ruas,” kata dia. Apabila itu dibiarkan, bisa berpotensi menimbulkan kemacetan di depan Kantor Kelurahan Kiduldalem. Untuk itu, Iik juga meminta agar parkir di sepanjang Jalan Aris Munandar bisa ditertibkan.
Dari persiapan dishub, baru ada delapan titik parkir yang akan ditertibkan. Yakni di Jalan Tenes, Jalan Merdeka Selatan, Jalan Merdeka Timur, Jalan Arjuno, Jalan BS Riyadi, Jalan Semeru, Jalan Bromo, dan Jalan Brawijaya (Pasar Splendid).
Warga di Jalan Semeru Bersikeras Menolak Berdasar rencana dishub, uji coba satu arah di 11 ruas jalan itu akan dilakukan selama tiga pekan. Pada pekan pertama, mereka bakal melihat perkembangan rekayasa lalu lintas tersebut. Pada pekan kedua, ada tahap evaluasi. Sementara dia pekan ketiga, dishub akan melakukan review. Perwakilan warga yang kemarin (11/1) ikut dalam sosialisasi di Kafe Lafayette berkeras agar pemkot hanya melakukan uji coba di jalan protokol saja. Tepatnya di Jalan Basuki Rahmat, mulai Kantor PLN hingga Mal Sarinah.
Sementara satu arah di Jalan Kahuripan hingga Jalan Semeru ditiadakan. Sebab, mereka menilai bila dampaknya akan cukup besar secara ekonomi dan sosial. ”Penerapan satu arah di Jalan Basuki Rahmat saja bisa terurai (kemacetannya),” kata pemilik Kafe Lafayette Yusuf, yang kemarin ikut dalam sosialisasi. Kepada koran ini, Yusuf mengaku sudah meminta bantuan ke teman-temannya di perguruan tinggi di Surabaya untuk menganalisa dampak lalu lintas jika ada penerapan satu arah di Jalan Basuki Rahmat. Hasilnya, meski terjadi kepadatan, arus lalu lintas tetap bisa terurai jika median di pertigaan Sarinah dibongkar. Sebab pengendara bisa melalui dua jalan. Yakni Jalan Merdeka Barat dan Jalan Merdeka Timur.
Kepada Jawa Pos Radar Malang, Yusuf juga mengaku bila warga tidak pernah dilibatkan dalam kajian satu arah Kajoetangan Heritage. Pertemuan terbatas kemarin pun digelar atas permintaan dari perwakilan warga pasca pembongkaran median di Jalan Semeru. Sebab, saat itu sempat terjadi gesekan antara warga dengan para pekerja. ”Terkait satu arah, warga sebenarnya sudah pernah bersurat ke DPRD Kota Malang. Lalu, Ketua DPRD mengundang kami bersama dishub dan Dinas PU untuk hearing,” bebernya. Selepas hearing itu, ada sosialisasi di Kantor Kelurahan Oro-oro Dowo. Namun, saat itu Yusuf dan warga yang hadir belum membawa tawaran solusi.
Setelah bermusyawarah, warga akhirnya menyepakati jika satu arah sebaiknya dilakukan mulai Kantor PLN hingga Mal Sarinah dan sebaliknya. Sebelum adanya rencana satu arah di Jalan Kahuripan sampai Jalan Semeru, warga hanya mendengar satu arah akan diterapkan di depan Kantor Bank BCA hingga Mal Sarinah. Sampai akhirnya melebar ke Jalan Kahuripan dan Jalan Semeru. ”Yang jelas, kalau satu arah diterapkan di Jalan Semeru, kami tidak diam. Karena yang paling terdampak adalah warga Kajoetangan,” tegas Yusuf.
Warga lain yang bernama Naufal Pratama juga masih mempertanyakan urgensi penerapan satu arah di Kajoetangan. Sebab, saat ini lalu lintasnya juga jauh dari kata lancar. Itu karena adanya parkir di tepi jalan. Menurut dia, yang paling penting saat ini yakni menangani parkir di tepi jalan itu. ”Banyak yang mengeluh dengan parkir tepi jalan yang banyak terjadi sekarang,” kata dia. (dre/mel/by) Editor : Mardi Sampurno