”Sebenarnya, mengantar dewa-dewi dan bodhisatwa ke kahyangan itu hanya simbolis. Sebab, mereka (dewa-dewi) selalu ada di atas kita. Di sekitar kita,” ujar Wakil Ketua Yayasan Kelenteng Eng An Kiong Herman Subiyanto, kemarin. Dulu ketika jumlah umat Tri Dharma masih minim, dia mengatakan, pembersihan dilakukan kapan saja. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah umatnya semakin bertambah, terlebih di Tiongkok yang tempat ibadahnya sangat ramai. ”Makanya para suhu (pemuka agama) di Tiongkok membuat istilah mengantarkan dewa-dewi pulang ke kahyangan,” imbuhnya. Dia menjelaskan, terdapat dua keyakinan umat terkait istilah tersebut.
Bagi yang memercayai, katanya, mereka tidak akan ke tempat ibadah dalam kurun waktu pembersihan. Namun yang percaya bahwa dewa-dewi selalu ada di sekitarnya, mereka akan tetap beribadah. Dia mengatakan, patungpatung tersebut dibersihkan menggunakan air yang telah dicampur bunga. Sebab, air bunga memiliki aroma wangi dan dianggap lebih suci. “Meski patung itu tidak ada dewa-nya, kami juga harus menghormati.
Misalnya Dewa Kwan Kong. Kami menghormati dewa dan patungnya. Jadi saat membersihkan pakai air kembang kan lebih suci dan lebih wangi,” ujar Herman. Jumlah patung yang mencapai ratusan membuat waktu untuk membersihkannya bisa 2-3 hari. “Dalam satu ruangan, ada yang jumlahnya 50 patung. Dan itu harus kami bersihkan semua,” ungkap ketua yayasan yang merangkap sebagai Ketua Agama Tri Dharma tersebut. Tidak hanya patung, altar untuk penempatan patung juga turut dibersihkan.
Setelah dibersihkan, lanjutnya, pakaian untuk patungpatung tersebut juga diganti. “Sebelumnya selalu di-laundry kemudian diganti baru,” ucap salah satu umat, Cian Cian. Sebelumnya, dia mengatakan, juga ada donatur yang membelikan pakaian untuk dewadewi. Namun dalam dua tahun terakhir, pihak yayasan mulai membeli sendiri. (yun/dan) Editor : Mardi Sampurno