MALANG KOTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan rencana satu kelurahan 10 sumur serapan. Ini skema baru untuk menanggulangi banjir.
Ini alternatif Pemkot selain mengandalkan bozem (waduk) dan drainase antibanjir.
”Untuk penanganan banjir, tahun 2023 ini kami menargetkan upaya yang lebih ramah lingkungan. Caranya dengan menabung air atau konservasi air,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dahat Sih Bagyono, 1 Februari 2023.
Mengacu data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, ancaman banjir semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Baca Juga : Proyek Selesai, Klaim Tekan Banjir 50 Persen.
Pada 2021 lalu misalnya, BPBD mencatat sebanyak 92 kejadian banjir. Setahun kemudian, 2022 jumlah banjir meningkat menjadi 98 kejadian.
Dia cukup berharap pada gerakan membangun 10 sumur resapan di setiap kelurahan. Sebab, ancaman banjir yang berpotensi meningkat pada tahun ini.
Dahat menegaskan, setiap kelurahan memiliki target membangun sepuluh titik sumur serapan.
Artinya, 57 kelurahan se Kota Malang mampu memenuhi target, maka ada 570 titik sumur resapan
”Kalau DPUPRPKP, targetnya membangun 380 titik sumur resapan. Seluruhnya sudah terbangun, termasuk yang tersebar di sejumlah kelurahan,” terang Dahat. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Dia mengatakan, pembangunan sumur resapan di setiap kelurahan menggunakan dana kelurahan.
Contohnya, Kelurahan Samaan. Di kelurahan yang termasuk bagian dari Kecamatan Klojen itu, total terdapat 7 sumur resapan.
Terpisah, Lurah Samaan Anang Setiawan menyebutkan, tujuh sumur resapan tersebar di lima lokasi.
Di antaranya di Jalan Gilimanuk, Jalan Jaksa Agung Suprapto RT 07 RW 03, dan Jalan Hasanudin.
Selain itu, ada pula yang berada di halaman Masjid Thariqqusalam, Jalan Jaksa Agung Suprapto RT 07 RW 02 serta Jalan Jaksa Agung Suprapto RT 07 RW 02.
”Di setiap titik, ada yang satu sumur dan ada yang dua sumur. Spesifikasi sumur resapan memiliki diameter satu meter hingga kedalaman lima meter,” sebut Anang.
Baca Juga : Sering Banjir, Dewan Minta Normalisasi Kali Paron.
Anang kemudian menjelaskan, untuk kawasannya yang terealisasi hanya tujuh titik. Hal tersebut karena kondisi dan kontur tanah di Kelurahaan Samaan.
Yang terbaru adalah pembangunan sumur resapan di Jalan Gilimanuk RW 05 atau di halaman Balai RW 05. Di sana terdapat dua sumur resapan yang terbangun pada akhir 2022 lalu.
”Untuk membangun satu sumur, kami memerlukan dana Rp 10 juta. Sehingga total biayanya Rp 70 juta,” beber pejabat eselon IV A Pemkot Malang tersebut.
Selain sumur resapan, kata Anang, pihaknya juga melakukan upaya lain untuk menanggulangi banjir. Misalnya, normalisasi saluran air atau gorong-gorong.
Pada tahun 2022 lalu, Kelurahan Samaan melakukan pengangkutan sedimen di Kali Welang.
Sementara itu, salah seorang warga Jalan Gilimanuk RW 05 Budianto menambahkan, dulu di kawasan ini sering terjadi banjir, terutama saat hujan deras.
Sebab, kawasan yang seharusnya bisa menjadi penampung air tersebut telah beralih fungsi menjadi perumahan-perumahan besar.
”Dulu di sini ada tiga resapan air, tapi jadi permukiman. Sehingga, airnya tidak bisa masuk. Namun, setelah ada sumur resapan (banjir) sudah berkurang,” tandasnya.(mel/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana