Kepastian tersebut dipastikan paling cepat dua pekan lagi. Kepala DLH Kota Malang Noer Rahman Wijaya menerangkan opsi pembongkaran itu tak hanya disebabkan tindakan asusila yang sempat beberapa waktu lalu. Namun dirinya mengaku, mendapat keluhan dari warga di sekitar kawasan tersebut.
”Jadi belum banyak yang mengerti, kalau warga di (sekitar taman) Ijen ini mengeluh semakin ramainya yang menggunakan kursi di wilayah itu," ujar Rahman kepada wartawan koran ini, kemarin (12/1).
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Radar Malang Online (@jawaposradarmalang)
Baca juga : Cegah Tindakan Asusila, Legislator Usul Ganti Bangku Ijen dengan Single Seat
Keluhan itu dikatakan Rahman karena ulah sejumlah oknum yang salah dalam memakai bangku. Seharusnya hanya dipakai untuk beristirahat sejenak. Tetapi malah dibuat nongkrong atau ajang kumpul komunitas tanpa mengetahui norma dan nilai.
”Di hari-hari tertentu khusunya akhir pekan, warga mengeluh karena sangat ramai. Apalagi kalau ada yang memakai knalpot brong, sehingga ini meresahkan," terangnya.
Baca juga : Bangku Jalan Ijen Malang Kembali Disegel
Namun Rahman menekankan, keluhan warga sekitar dan maraknya tindakan asusila itu tidak serta-merta menjadikan pembongkaran bangku jadi solusi paling ampuh. Pihaknya juga akan mengkaji menggunakan metode lain untuk pengawasan tindakan asusila agar tak terulang. Lebih lanjut, ketika memang nantinya harus dilakukan pembongkaran, Rahman mengaku siap menerima konsekuensi kritikan dari masyarakat.(adk/adn) Editor : Aditya Novrian