Kepala Dispangtan Kota Malang Slamet Husnan Hariyadi mengatakan, penurunan lahan cukup signifikan ini terjadi pada 2020 lalu. Beruntung, penurunan itu tak terus terjadi ketika tahun 2021 sampai 2022.
Slamet menekankan, lahan pertanian di Kota Malang terus bertahan di angka 994 hektare hingga tahun lalu. Atau per tahun ada rata-rata 6,3 hektare sawah yang hilang.
”Dari lahan itu, 803 hektare (sawah) ditanami padi, sementara sisanya merupakan lahan biasa," terang Slamet.
|Baca Juga :
Perda RTRW Stop Penyusutan Lahan Sawah
Pejabat eselon II B Kota Malang itu menambahkan, kebutuhan beras di Kota Malang saat ini berada di kisaran 94.321 ton per tahun.
Slamet menyebut, luas lahan pertanian di Kota Malang belum ideal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sebab, dari jumlah kebutuhan itu, Kota Malang hanya bisa memproduksi 14.906 ton tiap tahunnya.
Untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian, Wali Kota Malang Sutiaji mengaku akan menggandeng perguruan tinggi untuk tetap mempertahankan eksistensi sawah dan petani. Terutama kampus yang punya fakultas disiplin ilmu pertanian.
Dia berharap, gabungan kelompok tani (gapoktan) bisa menyerap teknologi terbaru dari para akademisi tersebut.
”Luas lahan sangat berpengaruh, tidak mungkin luasan sedikit bisa menghasilkan (produksi) banyak,” tegas Sutiaji.
Dia menambahkan tantangan petani di Kota Malang adalah kehidupan yang sudah urban. Jadi, ketersediaan lahan pasti akan terbatas tiap tahun.
Orang nomor satu di Pemkot Malang tidak menampik menyusutnya lahan sawah cukup berpengaruh terhadap kapasitas produksi pertanian di Kota Malang. Apalagi jumlah petani di Kota Malang kini tersisa hanya sekitar 7 ribu orang saja. (adk/adn) Editor : Aditya Novrian