Maret lalu, kelima komoditas tersebut punya andil besar dalam meningkatnya inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Maret lalu terjadi kenaikan inflasi hingga 0,33 persen. Tingkat inflasi Maret berada di angka 0,42 persen. Sementara inflasi pada Februari hanya berkisar 0,09 persen.
Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini menuturkan, beras punya andil paling besar dalam meningkatkan inflasi. Yakni sekitar 0,065 persen. Setelah itu, baru tiket pesawat terbang dengan andil 0,064 persen. Lalu posisi tiga ada cabai rawit dengan andil 0,057 persen, daging ayam ras 0,054 persen, dan kelima ada bensin 0,053 persen.
”Sementara beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, beras dan minyak goreng," terang Erny kemarin.
Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Joko Budi Santoso memaparkan strategi mengendalikan inflasi. Agar tidak terjadi kenaikan inflasi secara terus-menerus, dia menyarankan pemerintah kota (Pemkot) Malang memastikan ketersediaan bahan pokok aman hingga Lebaran.
Selain itu, lanjutnya, operasi pasar harus segera dijalankan. Fungsinya menekan kenaikan harga bahan pokok. "Hal yang tak kalah penting adalah percepatan penyaluran bansos agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Tidak tergerus oleh kenaikan harga selama Ramadan dan Lebaran," terang Joko.
Selain itu, katanya, menjamurnya penukaran uang baru di pinggir jalan juga harus menjadi perhatian. Menurut Joko, keberadaan bisnis penularan uang baru juga berpotensi menambah tekanan inflasi. Sebab, masyarakat harus menambah biaya 10 persen dari nominal uang yang ditukarkan. "BI perlu menambah layanan drive thru untuk menukarkan uang baru, sehingga masyarakat tidak perlu membayar biaya tambahan," tutur Joko. (adk/dan) Editor : Mahmudan