MALANG KOTA – Potret toleransi beragama tersaji Jumat kemarin (7/4). Di tengah kekhusyukan umat Muslim menjalankan ibadah puasa, jemaat Kristiani merayakan rangkaian Paskah dengan khidmat.
Salah satunya tampak dalam teatrikal Visualisasi Kisah Sengsara Yesus yang digelar di Gereja Katolik St Yohanes Pemandi Janti, Kecamatan Sukun.
Teatrikal itu dibawakan sekitar 75 remaja gereja. Sebagian bertugas menampilkan teatrikal
via dolorosa atau jalan salib. Sebagian lainnya mengiringi dengan nyanyian rohani.
Inti teatrikal tersebut menampilkan penyiksaan terhadap Yesus demi menebus dosa manusia dan menyelamatkan umat-Nya.
Visualisasi itu mendapat apresiasi dari sekitar 450 jemaat yang memadati gereja. Ditemui setelah kegiatan, ketua panitia Whana Rian Mukti Cahyo mengamini.
Teatrikal itu bertujuan mengajak kembali umat untuk mengetahui kisah kebangkitan Yesus.
Di samping itu, pihaknya ingin memberikan wadah kepada remaja dalam mengekspresikan diri.
”Karena pandemi sudah melandai, kami mengadakan teatrikal ini agar lebih semarak. Meski demikian, kami tetap menerapkan protokol kesehatan dan mengatur kehadiran umat saat ibadah,” kata Whana.
Selain teatrikal, lanjut Whana, ada sejumlah kegiatan lain yang menjadi rangkaian
Paskah. Diawali dari Rabu Abu yang dilaksanakan 40 hari lalu.
Selanjutnya ada Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Hari Raya Paskah. Teatrikal yang ditampilkan kemarin merupakan bagian dari Jumat Agung.
Selepas teatrikal, pada sore hari para jemaat melaksanakan ibadah. ”Semalam kami juga melakukan ritual pembasuhan kaki. Tujuannya untuk menunjukkan spirit melayani kepada sesama masyarakat,” terang dia.
Pendamping Remaja Gereja Fransiskus Pungky Hariadi menambahkan, teatrikal kemarin merupakan kegiatan kali kedua setelah terjadi pandemi.
Para remaja gereja sudah rindu untuk membuat kegiatan seperti itu setelah hampir tiga tahun terhalang Covid-19.
Persiapannya dilakukan setelah Rabu Abu beberapa waktu lalu. ”Yang saya bangga, script
teatrikal itu ditulis oleh para remaja, kemudian dikonsultasikan. Remaja yang lebih senior saling melatih adik-adik mereka,” jelas Pungky.
Terpisah, Komunikasi Sosial Keuskupan Malang Romo Stephanus Jemmy Fantaw menilai seluruh gereja di Malang Raya telah melakukan persiapan Paskah dengan baik.
Mulai dari mempersiapkan ruang yang cukup untuk ibadah, keamanan, maupun kegiatan seperti visualisasi kisah sengsara dan jalan salib.
Demikian pula tata cara ibadah dan prosedur masih menjaga protokol kesehatan. Tujuannya untuk menambah penghayatan iman umat.
”Dengan persiapan yang matang, kami berharap perayaan Paskah tahun ini bisa berjalan tertib, aman, dan lancar. Jangan sampai euforia Paskah membuat lengah dalam menjaga protokol kesehatan,” pungkas Romo Stephanus. (mel/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana