Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang di Masa Pemerintahan Wali Kota Malang Drs H Sutiaji
Dalam tiga tahun terakhir, tepatnya 2020 hingga 2022, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang mengalami perkembangan luar biasa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, tahun lalu IPM tumbuh 0,82 persen. Capaian itu membawa kota ini menduduki peringkat empat besar daerah di Jawa Timur dengan kategori IPM Sangat Tinggi.
MALANG KOTA – Ada tiga indikator penting untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bagi suatu daerah. Yakni pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak.
Dari ketiga komponen dasar itu, warga di Kota Malang terbukti mampu mengakses hasil pembangunan dengan sangat baik.
Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini mengatakan, pada sektor pendidikan misalnya. IPM salah satunya diukur dari skor harapan lama sekolah. Di Kota Malang, capaian skor harapan lama sekolah mencatatkan nilai 15 persen lebih. “Ini setara dengan jenjang diploma tiga (D3),” ujarnya.
Sedangkan rata-rata lama sekolah, Kota Malang mendapatkan nilai 10,69 atau setara dengan SMA kelas X. “Artinya, semua pelajar di Kota Malang telah menuntaskan wajib belajar sembilan tahun, bahkan terus berlanjut,” sambung dia.
Iklim pendidikan yang membaik itu menurut Erny besar kemungkinan didorong dengan status Kota Malang sebagai kota pendidikan. Karena itu, masyarakatnya juga terbentuk untuk mengutamakan pendidikan.
Bagaimana dengan sektor kesehatan? Masih menurut Erny, pada 2022, Umur Harapan Hidup (UHH) Kota Malang tercatat selama 73,75 tahun atau meningkat 0,39 tahun dibanding tahun sebelumnya.
Hal itu berarti, jika ada bayi yang lahir tahun ini diperkirakan mampu hidup hingga umur 73 tahun lebih.
Selanjutnya, pada sektor penghidupan layak, salah satunya diukur dari angka pengeluaran per kapita per tahun.
Di tahun 2022, angka pengeluaran per kapita yang disesuaikan (harga konstan 2012) mencapai Rp 16.897 juta per tahun atau meningkat Rp 234 ribu dibanding tahun sebelumnya.
“Nilai pada tiga indikator itu membawa Kota Malang sebagai kota dengan IPM sangat tinggi. Di Jawa Timur, hanya ada empat kota. Selain Kota Malang, ada Surabaya, Sidoarjo, dan Madiun,” bebernya.
“Bahkan IPM Kota Malang lebih tinggi dibanding Jawa Timur secara keseluruhan. Karena kota dan kabupaten Malang masih banyak yang timpang,” jelas Erny.
Sementara itu di tempat terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif berpendapat, pertumbuhan IPM tidak lepas dari program-program yang sudah dicanangkan Wali Kota Malang.
Termasuk pada sektor kesehatan. "Di sektor kesehatan, kami memiliki sejumlah strategi. Baik promotif maupun preventif melalui program promosi kesehatan (promkes)," ujarnya.
Setidaknya ada 10 program promkes untuk meningkatkan UHH yang dimulai sejak sebelum seseorang menikah hingga berkeluarga. Antara lain pemberian tablet penambah darah untuk remaja putri, bimbingan perkawinan kepada calon pengantin, serta program kehamilan di fasilitas kesehatan.
"Lalu, saat bayi lahir ada program-program untuk mencegah persoalan kesehatan, terutama kematian," jelas Husnul. Dia melanjutkan, berdasarkan data Dinkes, jumlah kematian bayi sepanjang tahun 2022 sebanyak 54 bayi. Sedangkan di tahun 2023 hingga Mei tercatat ada 28 kasus kematian bayi.
Beberapa penyebabnya karena berat bayi lahir rendah (BBLR), infeksi pascalahir, hipotermia, dan asfiksia. Untuk itu, pihaknya memberikan edukasi terkait pemberian gizi yang cukup dan screening kesehatan mulai bayi hingga remaja.
"Termasuk imunisasi. Tahun 2022 lalu, capaian imunisasi masih di angka 87 persen dari target 95 persen. Karena itu, kami akan terus mendorong imunisasi rutin melalui program Bulan Imunisasi Anak Nasional. (Jprm3/mel/nen)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari Tahun ke Tahun
Kota Malang
2020 : 81,45
2021 : 82,04
2022: 82,71
Jawa Timur
2020 : 71,71
2021 : 72,14
2022: 72,75
Nasional
2020 : 71,94
2021 : 72,29
2022: 72,91
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang
Editor : Neny Fitrin