Batu Tulis Kuno di Malang Raya, Kondisi Terkini dan Cerita yang Menyertainya (2)
Yudistira Satya Wira Wicaksana• Jumat, 4 Agustus 2023 | 22:00 WIB
Pengunjung Museum Mpu Purwa melihat Prasasti Dinoyo II kemarin. Batu prasasti itu sempat pecah menjadi 40 serpihan, kemudian disatukan kembali.
Jejak Sawah untuk Pertapaan Masih Misteri hingga Kini
Prasasti Dinoyo II merupakan satu di antara tiga prasasti yang masih tersimpan di Museum Mpu Purwa. Saat ditemukan, kondisinya sudah rusak. Sebagian akibat pukulan martil kuli batu.
SECARA dimensi, Prasasti Dinoyo II memiliki panjang 75 sentimeter. Lebarnya 57 sentimeter, sementara tingginya 30 sentimeter. Siapa pun yang ingin melihatnya bisa datang ke ruang diorama, lantai dua Museum Mpu Purwa, Perumahan Griya Santa, Jalan Soekarno-Hatta nomor 210.
Tidak mudah bagi peneliti, apalagi orang awam, untuk membaca tulisan pada prasasti yang terbuat dari batu andesit itu. Apalagi Prasasti Dinoyo II sudah retak sebagian. Selain itu, permukaannya banyak yang terkikis, sehingga tulisan hampir tak terbaca.
Kerusakan terjadi pada saat Prasasti Dinoyo II ditemukan oleh pekerja yang melakukan penggalian proyek gorong-gorong pada 1985. Lokasi penemuannya di timur pertigaan antara Jalan Gajayana dan Jalan M.T. Haryono yang sekarang masuk di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru.
Saat melakukan penggalian di kedalaman sekitar 80 sentimeter, alat milik pekerja mengenai batu besar. Posisi batu itu menghalangi jalur yang bakal menjadi gorong-gorong. Karena tidak tahu, sang pekerja memukul batu tersebut agar hancur menggunakan palu.
Pekerja proyek baru merasa heran setelah batu sudah hancur sebagian. Mereka mengangkat serpihan batu itu dan melihat ada beberapa tulisan menggunakan aksara kuno. Lalu, para pekerja melaporkan temuan tersebut ke kepolisian.
Batu itu sempat dianalisis oleh dosen IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) M. Habibi Mustopo. Sayangnya, hasil analisis atau transkrip prasasti menghilang. Demikian pula saat dianalisis Kepala Lembaga Arkeologi FSUI Prof M. Boechari. Hingga kini, transkrip yang sudah dihasilkan keduanya belum ditemukan.
Prasasti pun sempat berpindah tempat penyimpanan. Semula menempati Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur di Trowulan. Lalu pada tahun 90-an, serpihan prasasti yang berjumlah sekitar 40 buah itu disatukan. Selanjutnya, atas persetujuan sang pimpinan, yakni Tony Winston Douglas Mambo, prasasti bisa dibawa kembali ke Kota Malang untuk dirawat di Museum Mpu Purwa.
Batu bertulis itu lantas diberi nama Prasasti Dinoyo II. Itu karena lokasi penemuannya tak jauh dari titik ditemukannya Prasasti Dinoyo 760 M.
Pada 2004, pemerhati sejarah Kota Malang Suwardono sempat membaca prasasti itu menggunakan pola manual. Untuk membaca, dia membutuhkan waktu selama hampir satu bulan. Menggunakan cahaya matahari saat sinarnya tidak terlalu panas, tapi sangat terang. Yakni pada pukul 14.15-15.00.
Pembacaan prasasti juga sempat dilakukan Suwardono bersama Titi Surti Nastiti yang merupakan rekan almarhum Prof M. Boechari. Kesimpulan yang didapat serupa dengan pembacaan yang dilakukan pada 2004.
Pada prasasti yang ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dengan gaya bahasa prosa itu, Suwardono menyimpulkan bahwa isinya merupakan penanda sebuah peristiwa. Yakni hibah tanah perdikan dari seorang pemuka agama yang berasal dari Hujung (diduga sekarang adalah Singosari) ke dang hyang guru bernama Candik. Ada dugaan bahwa tanah perdikan itu digunakan untuk pertapaan yang dikelola Candik.
Kalimat yang memuat kesimpulan itu, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi: Kedudukan planet di selatan, tanggal 8 śuklapakṣa3, pada waktu itu dang hwan4 sang penderma, yaitu Sang Hiwil dari Hujung5 membatasi sima6 (berupa) sawah yang diwariskan kepada dang hyang guru.
”Tapi sampai sekarang memang tidak ditemukan bekas pertapaan atau asrama kependetaan,” ujar Suwardono. Menurut dia, pertapaan tidak selalu berupa bangunan. Tapi bisa juga tempat tinggal, tempat pemujaan, atau patirthan.
Hanya saja, lanjut Suwardono, kalau melihat lokasi penemuan prasasti di Jalan Besar Dinoyo, dia agak sanksi jika pertapaan tersebut ada di sana. Terlebih, pertapaan bukan hunian tetap dan sulit meninggalkan bekas. Kebanyakan pertapaan terbuat dari bangunan kayu. ”Mungkin di sana jadi tempat pemindahan terakhir yang asalnya belum diketahui dari mana,” jelas dia.
Lantas, bagaimana kaitannya dengan sejarah Malang? Suwardono berpijak dari tempat penemuan prasasti yang dulu diidentifikasi sebagai ibu kota pemerintahan wilayah watak Kanuruhan atau Kerajaan Kanjuruhan. (mel/fat)