MALANG KOTA – Kemarin (10/10), suasana di Pasar Buku Velodrome sepi. Dari sekitar 50 kios, hanya belasan kios yang buka. Sambil menunggu pembeli yang datang, beberapa pedagang duduk di depan kios masing-masing.
Salah seorang pedagang, Sanda Oki mengatakan setiap hari suasana pasar bulu velodrome selalu sepi. "Biasanya, ramai pembeli ketika mau masuk ajaran baru saja," kata dia.
Sebelumnya, mereka berjualan di Jalan Sriwijaya, depan stasiun Malang. Kemudian pada 2008 direlokasi ke area velodrome. Mereka menempati kios-kios yang disediakan melingkar di velodrome. "Sejak saat itu sepi pembeli," imbuhnya.
Kini kebanyakan pembelinya datang dari Kabupaten Malang seperti Pakis. "Daya belinya juga tidak sebagus dulu. Mereka lebih memilih yang murah," keluh Sanda.
Saat tahun ajaran baru, Sanda mendapat banyak pelanggan yang mencari buku-buku pelajaran. Sementara hari biasa seperti saat ini dia mengeluh sepi pembeli. Biasanya mendapat pemasukan dari pedagang Pasar Buku Wilis yang kulakan di tempatnya. Itu pun satu minggu sekali. ”Sudah mencoba menjual melalui online tapi masih belum membuahkan hasil,” terangnya.
Buku-buku yang dia jual mayoritas merupakan buku bekas. Mulai buku pelajaran hingga buku fiksi atau novel. Harga yang ditawarkan juga sangat murah, mulai harga Rp 10 ribu. Dia berharap pasar buku tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. "Seperti Pasar Wilis yang direnovasi, seharusnya di sini (Pasar Buku Velodrome) juga direnovasi," harapnya. (dur/dan)
Editor : Mahmudan