Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Wisata Baru di Malang, Kampung Aksara Jawa Kuno

Mahmudan • Selasa, 24 Oktober 2023 | 19:05 WIB
KAMPUNG TEMATIK: Salah seorang warga meminum air dari kendi di RT 08 RW 06 Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, kemarin (23/10). Mereka menyuguhkan suasana kuno untuk melestarikan budaya lokal.
KAMPUNG TEMATIK: Salah seorang warga meminum air dari kendi di RT 08 RW 06 Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, kemarin (23/10). Mereka menyuguhkan suasana kuno untuk melestarikan budaya lokal.

 

MALANG KOTA – Bakal bertambah lagi satu kampung tematik di Kota Malang. Yakni kampung Aksara Jawa Kuno di Kelurahan Gadang, Kedungkandang. Kampung itu diprakarsai oleh warga RT 08 RW 06 Gadang.

Salah seorang penggagas kampung Aksara Jawa Kuno, Rakai Hino Galeswangi mengatakan, dipilihnya aksara Jawa kuno karena pihaknya ingin melestarikan sejarah dan budaya lokal, terutama di Kelurahan Gadang.

”Jika ditinjau dari aspek sejarah, aksara Jawa kuno banyak digunakan pada era Kerajaan Kanjuruhan, Mataram Hindu/Medang, Kadiri, Singhasari, hingga Kerajaan Majapahit," kata Rakai kemarin (23/10).

Namun, dia mengatakan, sekarang sudah jarang ada yang bisa membaca aksara lokal Jawa Baru atau lazim dikenal dengan "Honocoroko". Padahal, dia melanjutkan, aksara Jawa Baru sampai detik ini masih diajarkan di sekolah dasar (SD).

”Untuk itu, kami menginisiasi pemasangan aksara Jawa Kuno pada masing-masing rumah warga," terang Rakai.

Formatnya sederhana. Yakni aksara Jawa Kuno di bagian atas dan latin di bagian bawah, sehingga orang yang melihat bisa langsung mengartikan.

Beberapa daerah sudah ada yang menggunakan aksara Jawa Kuno sebagai pelengkap papan nama jalan. Misalnya di Mojokerto. Selain itu, Jogjakarta juga menggunakan papan nama dengan aksara Jawa baru.

”Tapi belum dijumpai penulisan aksara Jawa Kuna pada papan di setiap rumah warga. Ini menjadi yang pertama, baik di Kelurahan Gadang maupun Indonesia," sebutnya.

Tulisan itu dibuat dengan mengusung konsep daur ulang. Yakni menggunakan kombinasi kertas bekas dan plastik bekas sebagai campuran bahannya. "Lebih detail, kami juga menyediakan tatakan beserta kendi air yang dapat diminum siapa saja yang melewati kampung ini. Tujuannya untuk menghidupkan kembali budaya Jawa," tandasnya. (mel/dan)

Editor : Mahmudan
#kampung tematik #Kota Malang #wisata baru