Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

KH Malik-Kyai Tamin Berjuang di Malang lewat Laskar Hisbullah

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 10 November 2023 | 21:00 WIB

 

DAKWAH DI MALANG: Kyai Tamin yang diabadikan sebagai nama jalan juga sempat berjuang melawan penjajah.
DAKWAH DI MALANG: Kyai Tamin yang diabadikan sebagai nama jalan juga sempat berjuang melawan penjajah.

KISAH tentang KH Malik yang dijadikan nama jalan di Kecamatan Kedungkandang tertuang dalam sebuah buku. Judulnya ’Sejarah Singkat Perjuangan dan Cikal Bakal Batalyon IV/33/514/III/I Ex Karisidenan Malang dan Besuki’. Dalam buku itu dikisahkan bila KH Malik merupakan seorang pejuang berpangkat letnan dua (Letda).

Dia gugur pada 5 Januari 1949 saat perjalanan menuju Bangil, Pasuruan. Perjalanan itu dilakukan atas perintah dari Komandan Kompi IV/Alap-alap Lettu Abdul Samad Tarsan terkait perang gerilya. Saat itu KH Malik berangkat dari Kepanjen bersama tiga pengawalnya.

Yakni KH Moechsin, Moch Sholeh, dan Ibrahim. Sayangnya, saat tiba di Desa Budengan, atau saat ini dikenal dengan Desa Buring (Fly Over Kedungkandang), dia dihadang tentara sekutu Belanda. Dia dicurigai sebagai orang Jepang. Sebab, kulitnya putih kekuning-kuningan seperti orang Jepang kebanyakan.

KH Malik langsung digeledah. Tentara sekutu Belanda itu mendapati pistol yang terselip di pinggang pahlawan yang diperkirakan saat itu berusia 30 tahun. KH Malik berhasil mencabut pistolnya lebih dulu sebelum tentara Belanda itu nyaris merampasnya. Seketika tembakan dilepaskan ke arah tentara Belanda.

Suara tembakan itu membuat tentara lainnya yang berjaga di pos bereaksi. Lantas KH Malik diserbu beberapa tentara Belanda. Insiden saling tembak dan adu fisik tak terelakkan. Ketiga pengawal yang turut bersama KH Malik saat itu kocar-kacir menyelamatkan diri. Hingga tinggal KH Malik seorang diri menghadapi keroyokan tentara sekutu Belanda itu.

KH Malik akhirnya terpojok. Dia dihantam beberapa peluru. Namun, tak satu pun bisa menembus tubuhnya. Melihat itu, tentara sekutu Belanda mencoba cara lain untuk menghabisi KH Malik. Caranya dengan mengikat tubuhnya dan dikaitkan pada mobil yang digunakan patroli tentara sekutu Belanda.

Menurut Ruhan, salah seorang warga Jalan KH Malik sekaligus inisiator penggalian sejarah hidup KH Malik, saat itu KH Malik diseret menggunakan kendaraan tersebut. Adegan penganiayaan itu dipertontonkan di hadapan banyak orang. Namun, dengan ilmu yang dia miliki, KH Malik tak kunjung wafat. ”Lalu ada seorang antek-antek atau penghianat yang mengetahui kelemahan KH Malik itu,” ucapnya.

Ruhan menyampaikan pengkhianat itu lantas memberitahukan kelemahan KH Malik kepada salah seorang tentara sekutu Belanda. Tak berselang lama ujung pistol milik KH Malik yang berhasil dirampas sebelumnya itu digoreskan ke tanah sebanyak tiga kali.

Baru lah KH Malik tak lagi kebal peluru. Dia dinyatakan gugur. Tentara sekutu Belanda memerintahkan masyarakat sekitar untuk menguburkan jasadnya tak jauh dari lokasi dia meregang nyawa. Makam itu masih ada hingga saat ini. Lokasinya di sisi kanan sebelum fly over Kedungkandang (dari arah selatan).

Sosok lainnya yang diabadikan sebagai nama jalan yakni Kyai Tamin. Namanya tarpampang di tepi jalan yang berada di sebelah selatan Pasar Besar Kota Malang. Nama Kyai Tamin cukup dikenal pada masa perang gerilya puluhan tahun silam. Dia tergabung dalam pasukan Laskar Hisbullah, bersama-sama dengan KH Malik.

Itu diungkapkan Fakih Joko Lelono. Dia merupakan saksi hidup terjadinya perang gerilya dengan sekutu Belanda. Dia mengisahkan Kyai Tamin merupakan keturunan ulama di Pasuruan. Ya, Fakih mengatakan kebanyakan tokoh-tokoh pahlawan di Malang bukanlah asli orang Malang. Melainkan pendatang yang turut berjuang di Malang.

”Sebab, dari dulu Malang memang menjadi daerah urban,” kata Fakih. Untuk itu, Fakih menyampaikan Kyai Tamin merupakan orang asli Pasuruan yang tinggal di Malang karena mempersunting istri yang merupakan orang Malang. Kyai Tamin juga menjadikan Malang sebagai area dakwahnya.

Fakih menyebut Kyai Tamin kerap berdakwah di surau yang kini berubah menjadi Masjid Noor. Kyai Tamin lah yang menentang keras seruan menyembah matahari oleh pemerintah Jepang yang saat itu berkuasa di Kota Malang sekitar tahun 1943.

Karena itulah Kyai Tamin sempat dijebloskan ke dalam tahanan Jepang, yang terletak di Alun-Alun Merdeka Kota Malang. Saat ini, lokasi ruang tahanan itu telah berubah menjadi pusat perbelanjaan Ramayana.

Sejarah tentang Ki Ageng Gribig lebih banyak dikenal dibandingkan dengan dua tokoh sebelumnya. Sebab, keberadaan makamnya masih terawat hingga saat ini. Bahkan, makamnya masih menjadi jujukan peziarah.

Namun, kisah Ki Ageng Gribig tak lepas dari berbagai versi. Ki Ageng Gribig disebut memiliki dua versi nama asli. Yakni Raden Ario Pamoetjong dan Raden Mosi Bagono. Terlepas dari mana nama yang asli, Ki Ageng Gribig dikenal sebagai penyebar Agama Islam di Malang dan sekitarnya.

PUNYA JASA: Pemakaman Ki Ageng Gribig masih menjadi jujukan warga.
PUNYA JASA: Pemakaman Ki Ageng Gribig masih menjadi jujukan warga.

Itu disampaikan oleh Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig Devi Nur Hadianto. Dia mengatakan bila Ki Ageng Gribig hidup pada masa dikirimnya senopati-senopati Mataram ke arah timur. Sementara, Gribig sendiri merupakan nama sebuah kampung.

Kampung itu berada di sekitar makam Ki Ageng Gribig saat ini. Yakni di Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Kampung Gribig disinyalir sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Tribhuwana Tunggadewi.

Hadianto menjelaskan, ada beberapa penafsiran terkait nama Gribig. Ada beberapa orang yang menyebut nama gribig terinspirasi dari bangunan rumah yang menggunakan ijuk tebal. Ada pula yang berpendapat bahwa gribig berarti Al-Maghribi dari Bahasa Arab. Sebab, di sekitar makan Ki Ageng Gribis banyak makam yang bertuliskan aksara Arab. (dre/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#kyai tamin #malang