Kota Malang memiliki Klub panjat tebing tertua, yakni Iso Manjat Sukur (IMS) Malang. Cub yang berdiri sejak 1996 itu diinisiasi oleh 7 orang penghobi panjat tebing. Rata-rata mereka atlet berprestasi, baik di kancah nasional maupun internasional.
AWALNYA mereka hanya berkumpul untuk latihan atau berdiskusi terkait olahraga yang menjadi salah satu bagian dalam mendaki itu. Lantaran sering bertemu, akhirnya mereka berpikir untuk mendirikan club.
“Tujuannya untuk menyalurkan hobi panjat tebing, baik untuk petualangan maupun prestasi,” ujar M. Azhar, salah satu perintis sekaligus pelatih IMS Malang.
Meski sempat vakum beberapa tahun karena tidak ada regenerasi, IMS Malang aktif lagi pada 2020. Mereka menerima anggota baru, terutama anak-anak. Saat itu banyak orang tua yang ingin anaknya beraktivitas. Sebab selama pandemi, anak-anak mereka mengikuti pembelajaran secara daring, sehingga terlalu banyak di depan smartphone.
Azhar mengatakan, banyak orang tua yang mengeluh karena anak terlalu sering bermain handphone daripada berinteraksi dengan teman-temannya. Kemudian dari sana mulai banyak anak-anak yang bergabung, apalagi IMS Malang lebih fokus pada prestasi, tidak hanya sekadar hobi. Saat ini jumlah anggotanya mencapai 50 personel, mayoritas anak-anak. ”Anak-anak juga semakin termotivasi untuk belajar berkompetisi,” kata pria kelahiran 1975 itu.
Selama ini, dia mengatakan, anggota IMS melakukan latihan rutin setiap hari, kecuali hari Minggu. Biasanya mereka berlatih di tempat-tempat umum seperti di Politeknik Negeri Malang (Polinema), Taman Gayam, dan Universitas Brawijaya (UB). Kadang juga latihan di tempat berbayar seperti Unggul Sport Center.
Pria yang akrab disapa Mamat itu mengungkapkan, panjat tebing merupakan olahraga yang cukup ekstrem, karena harus memanjat tebing dan bergelantungan di atas ketinggian. Meski dilengkapi peralatan dan aman, tapi dia yakin masih banyak yang tidak berani. “Ini memacu adrenalin dan jarang ditemukan pada olahraga lainnya,” tuturnya.
Dia mengatakan, banyak anggotanya yang mulanya tidak menyukai panjat tebing. ”Banyak di antara mereka mulanya hanya naik untuk berfoto di atas. Namun tak jarang mereka jadi ketagihan dan datang lagi,” tuturnya.
Saat sampai di atas dan menyelesaikan rintangan, dia mengatakan, rasa puas yang didapat tak dapat digambarkan. “Saya sendiri setiap sampai di atas, rasanya seperti masuk surga,” kata dia sangat senang dan puas.
Berbagai karakter juga dapat terbentuk dari olahraga tersebut. Sebab, seorang pemanjat tebing harus menentukan langkah dan pijakan secara tepat dan tepat, sehingga dapat berpikir cepat saat menghadapi suatu masalah. “Karena kalau salah langkah satu kali saja, risikonya akan jatuh,” kata Memet.(dur/dan)
Editor : Mahmudan