MALANG KOTA – Memasuki musim hujan, masyarakat diimbau mewaspadai bencana seperti banjir dan longsor. Sejak hujan mengguyur dua pekan lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat dua kali tanah longsor.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Malang Surya Adhi Nugroho memaparkan, tanah longsor pertama terjadi di Jalan Simpang Mega Mendung pada 5 November pukul 11.30. Penyebabnya dipicu oleh getaran ekskavator milik proyek Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
”Selanjutnya, tanah longsor terjadi di Jalan Hamid Rusdi pada 6 November lalu, sekitar pukul 17.00,” terang Surya, kemarin (14/11). Penyebabnya adalah plengsengan yang retak karena tergerus peningkatan aliran sungai akibat hujan lebat.
Surya melanjutkan, dua tanah longsor itu telah ditangani. Misalnya tanah longsor di Jalan Simpang Mega Mendung. Karena merupakan kewenangan balai besar wilayah sungai (BBWS) Brantas, pihaknya bersama dinas pekerjaan umum penataan ruang perumahan dan kawasan permukiman (DPUPRPKP) berkoordinasi dengan mereka.
”Sementara untuk tanah longsor di Jalan Hamid Rusdi, karena berpotensi terdampak ke rumah warga, kami mendistribusikan bantuan kedaruratan berupa sesek dan bambu untuk menahan longsor agar tidak meluas,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang itu.
Sedangkan Ketua RW 12 Agus Suwignyo mengatakan, ada satu warga yang terdampak tanah longsor di Jalan Hamid Rusdi, tepatnya di RT 2 Gang 3. Warga tersebut bernama Muhtar yang tinggal bersama istri dan empat anaknya dalam satu rumah.
Rumah Muhtar memang terletak di tepi Sungai Bango. Akibat tanah longsor tersebut, bagian belakang rumah ambrol. ”Sebelumnya, di sini pernah longsor juga, tapi di rumah sebelah Pak Muhtar, yakni rumah Pak Adi Utomo. Namun, sudah mendapat bantuan,” sebut dia.
Setiap banjir, dia mengatakan, luapan air sungai bisa delapan meter. Menurut dia, hal ini harus segera ditangani. Salah satunya dengan memperkuat plengsengan. ”Jika tidak, rumah lain juga terdampak,” pungkasnya. (mel/dan)
Editor : Mahmudan