MALANG KOTA – Jembatan Kampung Warna-warni yang sebelumnya sempat diberitakan rusak sudah selesai diperbaiki pada 6 November lalu. Meski demikian, jembatan yang menghubungkan Kampung Warna-warni dengan Kampung Tridi itu hingga kini belum sepenuhnya dibuka. Beberapa wisatawan mancanegara yang datang berkunjung terpaksa balik kucing.
Pantauan koran ini kemarin (19/11), tulisan ”Dilarang Lewat di Kaca” masih terpasang. Baik di sisi Kampung Warna-warni maupun Kampung Tridi. Beberapa wisatawan yang hendak menikmati pemandangan pun terpaksa hanya bisa sampai di tangga paling atas jembatan. Mereka hanya bisa memandang jembatan dari sela-sela papan larangan atau berfoto dengan latar jembatan yang ditutup.
Menurut koordinator kelompok sadar wisata Kampung Warna-warni Sony Pairin, perbaikan sebenarnya sudah selesai dilakukan. Prosesnya pun terbilang singkat. Tidak sampai satu hari. Perbaikan yang dilakukan berupa penambalan beton cor lama dan baru yang tidak menyatu. ”Itu membuat bagian jembatan seolah-olah ada yang retak. Padahal hanya sekitar lima sentimeter beton cor yang tidak bisa menyatu. Tidak tebal dan masih aman,” ungkap dia.
Pairin juga menegaskan bahwa ketebalan kaca jembatan sudah memperhitungkan beban maksimal. Berbeda dengan jembatan yang ambrol di Banjarmasin, jembatan di Kampung Warna-warni terdiri dari dua lapis. ”Jadi sebenarnya aman. Namun karena ada peristiwa di Banjarmasin, masyarakat jadi khawatir, sehingga kemudian jembatan diperbaiki,” sambung Pairin.
Selain penambalan beton cor, besi di bagian jembatan juga dicat ulang agar warnanya tak pudar. Pengecatan itu menghabiskan 80 kaleng cat. ”Kami dibantu PT Indana untuk penyediaan catnya. Ada 40 kaleng yang mendapat diskon 50 persen,” sebut dia.
Setelah ditambal dan dicat ulang, kini pihaknya masih menunggu jembatan dibuka pemkot. Sebab, Kampung Tridi masih bimbang untuk membuka jembatan kembali. Mereka enggan membuka jika pengecatan dilakukan asal-asalan. Namun, karena kunjungan wisata sudah kembali ramai, Pokdarwis Kampung Warnawarni memutuskan memperbolehkan wisatawan naik hingga ke tangga paling atas.
”Kasihan wisatawan yang datang jauh-jauh dari luar kota dan luar negeri. Bahkan, beberapa waktu lalu ada yang marah-marah karena dia datang dari jauh, sudah membayar, tapi tidak boleh masuk. Akhirnya kami perbolehkan foto-foto di atas, tapi tidak boleh melintas,” terang Pairin.
Salah seorang wisatawan asal Australia bernama Sean Balkin mengungkapkan, dia baru pertama kali ke Malang. Sebelumnya dia mengunjungi Surabaya terlebih dulu. ”Saya ke sini karena membaca sedikit sejarah soal Kampung Warna-warni dan saya pikir kampung ini fantastis. Karena itu saya ke sini,” ucapnya.
Sayangnya, Sean hanya bisa berfoto di depan papan larangan. Di Kota Malang, Sean mengunjungi beberapa tempat lain, seperti Masjid Jami dan Alun-Alun Tugu. Di luar Malang, dia juga mengunjungi Kawah Ijen, dan Air Terjun Grojogansewu. ”Ini liburan yang menyenangkan. Menurut saya, Indonesia bagus dan masyarakatnya ramah,” pungkas dia. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana