MALANG KOTA - Sebanyak 9 ribu pendatang disetujui menjadi warga Kota Malang. Data tersebut terakumulasi di lima kecamatan sejak awal tahun hingga akhir Oktober lalu. Para pendatang itu mengurus pengajuan pindah datang ke di dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil) karena sejumlah alasan.
Mayoritas alasan mereka pindah ke sini antara lain pekerjaan dan melanjutkan pendidikan. Dispendukcapil pengajuan berkas pindah datang terbanyak ada di September lalu.
”Jumlahnya mencapai 620 pengajuan yang masuk ke kami dan semua disetujui,” kata Kepala Dispendukcapil Kota Malang Dahliana Lusi Ratnasari.
Kemudian pada Oktober lalu, jumlah pengajuan pindah datang mengalami penurunan. Dispendukcapil pada waktu itu hanya menerima 519 pengajuan saja. Jumlah pengajuan pindah datang itu menurut Dahlia normal. Karena setiap bulan pihaknya menerima 500-600 pengajuan pindah datang.
Artinya, setiap hari rata-rata 20-30 orang mengajukan berkas ke kantor dispendukcapil. Meski jumlah pendatang yang disetujui cukup banyak, dispendukcapil juga menerima berkas pindah keluar dari warga Kota Malang.
”Jumlahnya (warga yang mengurus pindah keluar) hampir seimbang dengan jumlah yang pindah datang," ungkap pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.
Pada September lalu, sebanyak 553 orang mengurus berkas pindah keluar. Kemudian pada bulan lalu mengalami penurunan dengan hanya menerima 529 berkas. Tentu saja pihaknya tak sembarangan mengeluarkan izin pindah datang maupun pindah keluar.
Berkas yang diserahkan akan diverifikasi terlebih dahulu. Mulai dari catatan administrasi pendukung hingga pencocokan data warga yang mengurus.
”Tentunya, kami berupaya melakukan pemantauan agar tidak asal meloloskan pengajuan," tandas Dahlia.
Dengan banyaknya pendatang yang disetujui menjadi warga Kota Malang mendapat perhatian dari Wakil Ketua II DPRD Kota Malang Asmualik. Dia melihat selama ini pengajuan pindah datang hanya mempermudah administrasi. Misalnya saja bagi orang yang ingin pindah pekerjaan atau sekolah.
”Tapi kalau secara ekonomi seperti penambahan PAD (pendapatan asli daerah) saya belum melihat keuntungannya," sebut dia. (mel/adn)
Editor : Aditya Novrian