Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tradisi Co Kong Tik Digelar di Eng An Kiong Malang, Bakar Rumah hingga Mobil

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 4 Januari 2024 | 17:54 WIB

 

BAKAR MINIATUR RUMAH: Salah satu prosesi Co Kong Tik yang dilaksanakan di Klenteng En An Kiong kemarin (3/1).
BAKAR MINIATUR RUMAH: Salah satu prosesi Co Kong Tik yang dilaksanakan di Klenteng En An Kiong kemarin (3/1).

MALANG KOTA – Tradisi Co Kong Tik atau menghormati leluhur masih terjaga di kalangan warga Tionghoa Kota Malang.

Salah satu ciri khas tradisi itu adalah mengirim doa untuk keluarga yang sudah meninggal, termasuk miniatur rumah dengan cara dibakar.

Seperti yang berlangsung di Klenteng En An Kiong, kemarin (3/1).  

En An Kiong, kemarin (3/1).

Co Kong Tik kemarin dilaksanakan untuk menghormati orang asal Surabaya yang meninggal.

Freddy Kurniawan yang merupakan pandita dari aliran Buddha Tantrayana Zen Fo Zhong mengatakan, pihak keluarga biasanya menggelar Co Kong Tik pada hari ke-49 setelah almarhum meninggal.

Namun, ada pula yang dilaksanakan pada hari ke100, satu tahun, dua tahun, atau tiga tahun setelah meninggal.

“Jadi tidak terbatas. Tapi paling bagus memang hari ke-49,” ujarnya. 

Menurut Freddy, Co Kong Tik digelar berdasar kepercayaan dalam agama Buddha.

Yakni, orang yang meninggal itu ibarat bayi yang baru lahir dan dalam kondisi belum memiliki tujuan.

”Karena itu almarhum diberi persembahan berupa rumah, sesajian buah, dan lainnya agar di surga ada lokasi yang dituju,” jelasnya. 

Rumah yang dipersembahkan bukan rumah sungguhan.

Melainkan miniatur dari kertas hias yang dibentuk sedemikian rupa.

Ukurannya bisa mencapai 3 x 2 meter.

Menurut Freddy, prosesi Co Kong Tik diawali dengan memberikan sesajian buah dan kue di empat tempat.

Yakni Altar Tuhan Yang Maha Esa, Dewa Pujaan, Dewi Quan Im, serta penguasa neraka.

Setelah itu pihak keluarga memberi doa.

”Di altar penguasa neraka, keluarga memohon keringanan agar karma buruk semasa hidup leluhur yang sudah meninggal diterima,” imbuh Freddy. 

Sementara doa diberikan agar arwah dibimbing ke surga.

Terakhir dilakukan prosesi kirim miniatur rumah dengan cara dibakar.

Selain dilaksanakan dengan cara Buddha Tantrayana, Co Kong Tik juga bisa dilakukan sesuai tradisi keluarga masing-masing.

Baik yang beraliran Taois hingga Khonghucu.(mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#eng an kiong #Tradisi Co Kong Tik #warga Tionghoa Kota Malang