MALANG KOTA – Rencana Pemkot Malang membangun pasar terpadu di Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang ditanggapi DPRD Kota Malang.
Para anggota DPRD Kota Malang tersebut meminta eksekutif mengkaji secara mendalam soal pasar terpadu.
DPRD Kota Malang minta kajian serius agar pasar terpadu tidak sepi seperti dua proyek lain di kawasan Kedungkandang, yakni Terminal Hamid Rusdi dan Islamic Center (IC).
Untuk diketahui, operasional terminal Hamid Rusdi tidak sesuai ekspektasi.
Pengoperasiannya digadang-gadang bisa mengurai kemacetan di Gadang, tapi angkot dan bus tidak mau mangkal di terminal baru tersebut.
Sementara gedung Islamic Center masih sepi, meski sudah diresmikan tahun lalu.
Sekretaris Komisi B DPRD Kota Malang Arief Wahyudi mengatakan, dua bangunan yang juga berada di Kedungkandang belum optimal.
Kurang dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga sepi.
Belajar dari pengalaman itu, dewan tak ingin hal serupa terjadi di Pasar Terpadu.
”Sebelum dilempar ke publik, seharusnya perlu kajian secara mendalam. Jangan sampai hanya wacana atau harapan semu bagi masyarakat,” tutur Arief kemarin (12/1).
Kajian yang harus dilakukan seperti kepastian lokasi.
Kemudian dampak sosial yang akan ditimbulkan dengan pembangunan pasar baru itu.
Serta, kesediaan pedagang untuk pindah.
”Persetujuan pedagang itu yang utama, sebab mereka pengguna utama pasar tersebut. Nantinya perlu komunikasi yang baik dengan mereka,” tegas Politikus PKB itu.
Arief mengaku telah mengetahui alasan pembangunan pasar terpadu.
Yakni mengurai kemacetan di Gadang dan pemindahan PKL di tiga pasar.
Yaitu Pasar Kebalen, Pasar Kedungkandang, dan Pasar Induk Gadang.
Menurutnya, alasan tersebut sudah berdasar.
Tinggal eksekusinya harus dijalankan dengan baik.
”Menertibkan PKL ini yang akan menjadi PR, karena mereka pasti tidak mau dipindah. Alasannya sudah memiliki pelanggan.
Ini yang harus bisa diselesaikan Pemkot Malang,” tandas Arief.
Salah satu PKL Pasar Kebalen, Ummi menyatakan, dia tidak ingin pindah dari tempat tersebut.
Sebab, Pasar Terpadu belum bisa menjanjikan pembeli yang ramai.
Ummi khawatir omzetnya malah merosot setelah menempati pasar terpadu.
”Saya sudah di sini (Pasar Kebalen) selama 20 tahun. Meskipun tempatnya lebih bagus, saya tidak tertarik,” tuturnya. (adk/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana