DPUPRPKP Bakal Tata Jaringan Kabel hingga Lebarkan Jalur Pedestrian
MALANG KOTA - Rencana Pemkot Malang untuk memoles kawasan Pecinan kembali bergulir. Dokumen kajian yang disusun sejak tahun lalu akhirnya rampung. Sejumlah penataan bakal dilakukan mulai pelebaran jalur pedestrian hingga menanam kabel ke bawah tanah.
Untuk merealisasikannya, pemkot butuh anggaran sedikitnya Rp 8 miliar. Jika memungkinkan, anggaran tersebut paling cepat diusulkan pada perubahan anggaran keuangan (PAK) atau Perubahan APBD 2024.
”Tergantung ketersediaan anggaran apakah nanti bisa ditambah atau tidak,” kata Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahaan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Nyoto saat dikonfirmasi kemarin.
Dalam dokumen kajian yang sudah tersusun, penataan akan dilakukan di sepanjang jalan kawasan Pecinan yang mencapai 1.080 meter. Terutama pada jalur pedestrian. Pemkot akan melakukan pelebaran kurang lebih 3 meter. Mengingat lebar jalur pedestrian di sana masih 1,5 meter. Selain pedestrian, ada penambahan lampu hias, kursi, dan bollard yang sama seperti di Kajoetangan Heritage.
”Kemudian nanti di bawah jalur pedestrian ada saluran kabel bawah tanah. Harapannya nanti tidak ada lagi kabel semrawut di sana,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.
Ditanya terkait penataan pada aspek lain seperti pedagang kaki lima (PKL), Nyoto menyebut belum sampai ke sana. Rencana penataan nantinya fokus di pada kondisi fisik.
Menanggapi hal itu, pemerhati budaya Tionghoa Kota Malang Bambang AW menilai penataan kawasan Pecinan jadi langkah baik. Namun, sebelum melakukan penataan, masyarakat di sana harus diajak diskusi bersama.
”Jangan sampai penataan malah mematikan bisnis mereka yang sejak dari dulu sudah di sana," tegas dia.
Dia memberi contoh penataan di Kajoetangan Heritage. Di sisi lain, ekonomi mampu bangkit, tetapi ada toko-toko yang tutup dan beralih jadi kafe. Soal konsep penataan, Bambang menyarankan agar pemkot bisa melihat kawasan Pecinan di tempat lain. Misalnya saja, Pecinan di Penang (Malaysia) dan Medan. Selain ditata, di sana masyarakat mendapat subsidi untuk memperbaiki wajah toko.
Konsepnya pun sesuai dengan budaya Tionghoa. Seperti warna interior yang didominasi oleh merah. Kemudian terdapat ornamen tambahan seperti lampion.
”Jadi tidak dipukul rata dengan lampu hias saja," terangnya.(mel/adn)
Editor : Aditya Novrian