MALANG KOTA - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek pada 10 Februari mendatang, para pedagang yang menjual pernak-pernik mulai bermunculan.
Namun belum semua pedagang pernik imlek di Malang langsung merasakan untung.
Sebagian di antara penjual pernik imlek asal Malang mengaku belum banyak pembeli yang datang.
Salah satu pedagang yang menjual pernak-pernik Imlek adalah Rizal Zainuri.
Pria yang sudah lebih dari lima tahun berjualan aksesori Imlek itu biasa menjajakan dagangannya di depan Klenteng Eng An Kiong, Jalan Laksamana Martadinata.
Dia berjualan ditemani istrinya, Erni Sugiani.
Ada berbagai macam pernak-pernik yang dijual Rizal.
Antara lain baju Cheongsam untuk perempuan, baju Changshan untuk laki-laki, kemeja, lampion, hingga mainan barongsai.
”Biasanya dua sampai tiga minggu menjelang Imlek sudah ramai,” cerita Rizal, kemarin (26/1) Namun kondisi tahun ini sedikit berbeda. Hingga dua pekan menjelang perayaan, belum banyak orang yang datang untuk membeli.
Dalam sehari rata-rata yang terjual tidak sampai lima pernak-pernik.
Dia menduga sepinya penjualan karena faktor ekonomi dan kondisi sekarang yang mendekati pemilu.
Rizal menambahkan, harga barang yang dia jual sebenarnya sudah lebih murah dibanding toko-toko online.
Selisihnya bisa mencapai Rp 10 ribu.
Contohnya untuk baju Cheongsam atau pun Changshan untuk dewasa. Harganya antara Rp 160 ribu sampai Rp 170 ribu.
Kalau untuk anak-anak antara Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu.
”Baju dewasa biasanya dicari oleh para pegawai kantor,” imbuhnya.
Motif yang saat ini sedang tren adalah gambar naga.
Itu sesuai dengan shio 2024 yang merupakan tahun naga kayu.
Untuk warna, dari tahun ke tahun tetap dominan merah. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana