Era digital mengubah pola pikir sekaligus gaya hidup masyarakat, terutama bagi kalangan remaja. Media sosial (medsos) yang mulanya dirancang untuk menjalin komunikasi, berubah menjadi bagian dari profesi.
YOUTUBE muncul sejak Februari 2005 silam. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 2015, banyak anak muda di Bumi Arema yang menjadi content creator alias pembuat konten di YouTube.
Barangkali awalnya sekadar hobi. Kalau pun ada kalangan profesional yang mengoperasikan YouTube, lebih kepada media penyampai informasi.
Lambat laun menjadi gaya hidup. Kini, hampir tidak semua anak muda mengisi aktivitas kesehariannya dengan media sosial (medsos). Entah itu YouTube, Facebook, Instagram, twitter (X), bahkan TikTok.
Di Kota Malang, content creator membangun jejaring. Mereka membuat komunitas. Salah satunya bernama Network Creator (NCreators) Media. Komunitas yang pendiriannya diinisiasi oleh Malang Creative Fusion (MCF) itu menjadi ajang berbagi informasi dan belajar bersama para content creator di Malang.
Pembina NCereators Ega Pratama mengatakan, content creator seperti public figur. Mereka memiliki tanggung jawab atas semua video yang diunggah. ”Wajib bertanggung jawab atas setiap tindakannya,” kata pria yang juga Public Speaking Enthusiast itu.
Dia mengatakan, ada empat pilar yang wajib dipenuhi dan menjadi pijakan para content creator. Yang pertama, to entertain. Yakni konten harus menghibur para penontonnya. Kedua, to inform. Selain menghibur, dia mengatakan, konten juga harus memberikan informasi untuk disampaikan. “Bagaimana caranya konten itu memiliki muatan besar, sehingga yang nonton dapat daging dari konten tersebut. Tidak hanya hiburan,” tuturnya.
Yang ketiga, Ega melanjutkan, to motivate. Sebuah konten harus dapat membuat penonton terdorong. Misalnya menciptakan kedekatan sosial, melahirkan sikap empati dan simpati yang kuat. Yang keempat adalah to persuasive. Yakni konten harus dapat memengaruhi. “Kalau konten dapat memunculkan itu semua, ya sangat hebat,” tuturnya.
Namun keempat pilar tersebut sangat jarang dimunculkan para content creator selama ini. Sebab, dia menyadari memang sulit merealisasikannya. Untuk itu, content creator disarankan harus bisa belajar meningkatkan kualitasnya. ”Salah satunya melalui komunitas. Agar dapat bermanfaat bagi orang lain,” kata dia.
Dengan tuntutan tinggi tersebut, apa motivasi content creator bertahan? Salah satu content creator, Oggy Meidyawan Hartono memaparkan sisi positifnya. Salah satunya, dapat penghasilan untuk kebutuhan hidup.
Sejak aktif di medsos, dia kerap di-endorse produk tertentu. ”Dalam sebulan, paling sedikit saya menerima 5 video untuk endorse,” katanya.
Tarif yang dipasang beragam, menyesuaikan permintaan klien. Biasanya dia mematok tarif Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu untuk satu video. Meskipun tidak menjadi pekerjaan utamanya, namun ia merasa sangat senang karena hobinya dapat menghasilkan uang.
“Saya ini suka traveling. Awalnya iseng-iseng membagikan foto dan video saat traveling, ternyata banyak yang suka,” kata dia. Dari sana dia lebih serius membuat konten saat jalan-jalan. Kemudian belakangan dia merambah konten kuliner, sehingga sering mendapat endorse produk-produk kuliner.(dur/dan)
Editor : Mahmudan