NAHDLATUL Ulama (NU) genap berusia 101 tahun pada hari ini (31/1).
Pada usia yang sudah melewati satu abad itu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang mengajak warga Nahdliyin dan masyarakat untuk memenangkan peradaban.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang KH Isroqunnajah mengatakan, secara umum banyak orang yang belum siap dengan cepatnya laju peradaban.
Termasuk orang Jawa yang masih terkesan kesingsalsingsal (terseok-seok).
Karena itu, NU ingin mengawal peradaban dengan memastikan strategi atau pola yang tepat untuk dilaksanakan.
”Sejumlah strategi sedang dibahas pengurus dalam rangkaian Konferensi Besar (Konbes) NU di Yogyakarta,” ucap pria yang akrab dengan panggilan Gus Is tersebut.
Namun dia juga mengatakan bahwa setiap pengurus NU seharusnya sudah memiliki strategi.
Yakni berupa pemahaman internal soal Aswaja, fiqih, dan tasawuf.
Selain pemahaman prinsip internal, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga membangun sinergi dalam bentuk Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU).
Pada gerakan itu terdapat indeks partisipasi kasar, terutama di bidang akademik.
”Minimal masyarakat harus memiliki pendidikan hingga jenjang SMA,” jelasnya. Dalam bidang kesehatan, gerakan itu juga bisa diarahkan untuk pencegahan stunting.
Lalu masyarakat juga diajak untuk memperkuat ketahanan terhadap bencana-bencana.
Lewat aspekaspek tersebut, masyarakat diharapkan bisa bersama-sama memenangkan peradaban.
Selebihnya, upaya yang harus dilakukan kembali pada masing-masing orang dan di tingkat keluarga.
”Yang terpenting masyarakat harus adaptif. Kalau untuk kalangan NU, adaptif tanpa meninggalkan akar sebagai orang NU,” imbuhnya.
Gus Is juga menambahkan, pada tahun politik ini, tugas NU adalah memenangkan Indonesia.
Bukan memenangkan pemilihan presiden.
Meski demikian kalangan NU tetap berhak menggunakan hak politik sepanjang tidak memicu perpecahan, apalagi sampai pertumpahan darah.
”Yang paling utama adalah menjaga keutuhan NKRI.
Pilpres bukan tujuan, tapi titik yang harus kita lalui dengan selamat dan aman tanpa ada pertumpahan darah,” tegasnya. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana