MALANG - Sebelum bernama Papinya, toko seragam di Jalan Pasar Besar Nomor 21 ini punya dua nama lama.
Tahun 1935, namanya Saeki.
Setelah itu berubah menjadi toko Cung.
Singkat cerita, Jusuf Ibrahim membeli toko itu pada 1953.
Namanya kemudian berganti menjadi Papinya.
Kini, toko itu dikepalai Paulus, anak pertama dari Jusuf Ibrahim.
Total sudah 20 tahunan, Ang Boen Haw - nama Cina Paulus mengelola Papinya.
Dia menjalankan toko seragam legendaris di Kota Malang itu bersama istrinya, Tjendra Ishak.
Mulanya, sebelum membeli toko itu, ayah dari Paulus berjualan di dalam Pasar Besar Malang.
”Awalnya banyak barang yang dijual (ayah saya). Tapi, setelah melihat peluang dan pasar, ternyata yang laku keras adalah jarik, batik, dan seragam,” kata dia.
Setelah pindah dan punya toko Papinya, bisnis keluarganya semakin berkembang.
Era kejayaan toko itu terjadi pada era Presiden Soeharto.
”Tahun 1966-an ada ketetapan berseragam. Jadinya tidak ada saingan, satu-satunya di Malang waktu itu ya di sini (yang jual seragam),” jelas pria kelahiran 1943 itu.
Baru pada era 1970-an, saingan mulai bermunculan.
Meski begitu, keluarga Paulus tetap konsisten dengan bisnis tersebut.
”Jual seragam itu potensi buang stok, karena ketentuan seragam sering berubah, tapi kami berani (ambil risiko itu, red),” imbuh dia.
Prinsip yang selalu dipegang mereka yakni mempertahankan kualitas.
Menjadi salah satu pemilik toko lama di kawasan Pecinan, Paulus mengakui sudah banyak yang berubah.
Dulu, komplek Pecinan berisikan orang Tionghoa saja.
Mayoritas berdagang.
Kini tersisa tujuh toko milik orang Tionghoa.
Selain Papinya, ada Toko Raya, Toko Madjoe, Toko Diamond, Toko Tio, Toko Jaya, dan Toko Mas Raharjo.
Bagaimana ke depan toko Papinya, Paulus juga tak bisa memprediksinya.
Anaknya enggan mengelola, dan memilih berkarier di bidang lainnya.
”Anak saya bekerja di Jakarta, saya minta kelola tidak mau. Jadi ya sudah, lihat nanti jalannya bagaimana”, tandasnya.
Selain Papinya, ada Toko Madjoe juga masih eksis sampai saat ini.
Mereka terkenal dengan jualan produk kue kering.
Toko dengan cat biru dan bernuansa vintage itu sudah ada sejak 1930.
Desain interior toko itu cukup menggambarkan usianya.
Toples kaca besar yang familiar tahun 90-an masih berjejer di sana.
Konsep itu sudah dipakai sejak generasi pertama.
Perintis pertama toko itu adalah The Djie Hiap.
”Yang mengawali kakek buyut saya itu. Tapi yang masak nenek buyut saya (Liem Sian Nio),” ujar Charles Tejo Mulyono, pemilik Toko Madjoe.
Charles adalah generasi keempat dari The Djie Hiap.
Pria berusia 63 tahun itu punya nama Cina The Tik Sien.
Sejak ayahnya wafat, Toko Madjoe dipimpin Charles.
”Istri (Endang Sulistyowati) dan saudara lain ikut membantu masak kue. Kalau tante saya menjaga toko,” terang Charles.
Ada sekitar 25 jenis kue yang dijual di sana.
Seperti nastar, kastengel, kue kenari, dan lidah kucing.
”Resep kue masih kami pertahankan sejak dulu,” lanjutnya.
Penjualan kue di sana terbilang stabil.
Pasti ada hari-hari ramai seperti menjelang Idul Fitri atau Natal.
”Kalau waktu Imlek ya biasa saja (penjualannya),” imbuh Charles.
Selain menyaksikan perkembangan Toko Madjoe, Charles juga menjadi saksi perubahan kawasan Pecinan.
”Saya di sana sejak tahun 1967,” kata dia.
Dia mengaku sudah banyak perubahan yang terjadi.
Terutama pada fisik bangunan dan jenis toko di Pecinan.
”Kalau etnis, dari dulu sudah campur. Hanya etnis Tionghoa memang lebih banyak saat itu,” tambahnya.
Perubahan fisik Pecinan paling signifikan terjadi pada 1970.
Saat itu, ada pelebaran jalan yang dilakukan pemerintah daerah.
Di daerah utara dilebarkan 3,5 meter.
Sementara di selatan dilebarkan satu meter.
”Alasannya mau diluruskan dengan pasar. Jadi yang bertahan bentuknya cuma Toko Madjoe, Toko Papinya di seberang, dan yang sekarang jadi Hotel Alimar itu,” imbuh dia.
Tiap Suku Punya Ciri Khas Dagang Jejak perdagangan di kawasan Pecinan sudah ada sejak lama.
Seperti disampaikan Purnomo, Ketua RT 5 di Jalan Wiromargo.
Sepengetahuan dia, untuk Suku Hokcia ada di Jalan Pasar Besar dan Jalan Wiromargo.
Mereka fokus pada bidang perdagangan tekstil.
Di kawasan pertukangan seperti Jalan Jodipan dan Jalan Zainul Arifin, ditempati Suku Konghu.
Selanjutnya untuk Suku Hokkian yang menekuni perdagangan hasil bumi menempati area Kidul Pasar atau Jalan Kyai Tamin.
”Saya sendiri sudah tinggal di Jalan Wiromargo sejak tahun 1966. Sekarang sudah banyak yang berubah. Tapi dari dulu tetap khas dengan area pertokoan,” cerita dia.
Purnomo juga merupakan keturunan dari Suku Hokchia.
Terkait dengan tradisi khas, Purnomo menyebut pada zamannya tidak ada tradisi tertentu.
Sebab, pada masa itu seluruh budaya Tionghoa tidak boleh beredar.
Itu terjadi tepat pada masa kemerdekaan sampai Orde Baru.
Tradisi Tionghoa baru boleh tampak pada masa Presiden Abdurrahman Wahid.
”Jadi dulu tidak boleh ada ornamenornamen lampion dan pertunjukan barongsai,” ucapnya.
Dulu saat zaman pendudukan Belanda, suasananya lebih meriah.
Ada gerbang besar menuju Jalan Sersan Harun.
Namun, sekarang sudah tidak ada.
”Kalau gerbang besar yang sekarang kan zamannya Abah Anton (dibangunnya),” imbuhnya.
Selain dia, ada Indahwati.
Dia merupakan keturunan Tionghoa yang sekarang membuka usaha peracangan di Toko Tasikmalaya, Jalan Pasar Besar Nomor 105.
Dia merupakan generasi keempat.
Sebelum menjadi Toko Tasikmalaya, toko tersebut bernama Toko Shin Han yang dimiliki kakek buyutnya, Alang.
”Kakek saya membuka usaha batik dan baju, sementara ayah membuka jasa foto,” kata perempuan berusia 60 tahun tersebut.
Kini, toko tersebut menjual barangbarang rumah tangga seperti tisu.
Dari cerita sang kakek, sebelum menjadi pertokoan, jalan di deretan tokonya pernah digunakan sebagai kuburan.
Di samping Jalan Pasar Besar, penyebaran orangorang Tionghoa juga tampak di Jalan Zainul Arifin.
Menurut kesaksian Waloeyo, dulu Jalan Zainul Arifin terkenal sebagai kawasan pertukangan.
Kebetulan, dia pernah tinggal di Jalan Zainul Arifin, tepatnya pada 1946 sampai 2005.
Ayah Waloeyo yang Bernama Liem Acang menekuni kerajinan mebel.
Sementara ibunya Sarmuah menjadi ibu rumah tangga.
Liem merupakan orang dari Suku Konghu yang datang dari Kanton, Tiongkok Selatan.
Selain keluarga Waloeyo, ada enam orang dari Suku Konghu yang tinggal di sana.
Tidak hanya menekuni mebel, ada juga yang bekerja menjadi tukang kayu, tukang jahit, tukang foto, dan pemilik restoran.
Seiring berkembangnya waktu, banyak orang-orang Tionghoa yang mulai pindah ke lokasi lain.
Soal ciri khas yang ada di Jalan Zainul Arifin yang khas hanya berupa bangunan.
”Kalau rumah khas warga Tionghoa itu biasanya berbentuk sedikit melengkung pada bagian dinding. Pintu bagian tengah dobel dan memiliki pintu kecil berukuran setengah badan,” ujar pria berusia 85 tahun itu.
Selain itu, setiap rumah juga memiliki altar untuk sembahyang. (mel/jb1/jb3/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana