MALANG KOTA – Sepinya penumpang membuat sopir angkot mencari alternatif lain. Salah satu andalannya adalah carteran.
Salah sepramh sopir angkot jalur AL, Hariadi Rubianto mengatakan, setiap harinya mangkal di depan stasiun menunggu penumpang. “Kalau tidak ada penumpang sama sekali ya tidak jalan,” tuturnya.
Sebab jika tetap jalan tanpa penumpang, ia khawatir tidak akan ada penumpang di sepanjang jalan menuju terminal tujuan. Kemarin (15/2), ia hanya mendapat satu penumpang dari Terminal Arjosari hingga Stasiun Malang.
Hal itu membuatnya mengandalkan carteran untuk kebutuhan sehari-hari. “Biasanya rombongan dari luar kota ingin keliling Malang,” ungkapnya.
Tarif yang dipatok berbeda-beda sesuai lokasi tujuan. Apabila keliling Kota Malang saja dia mematok tarif Rp 50 ribu per tujuan. Sedangkan ke Kota Batu atau ke Kabupaten Malang biasanya dibanderol Rp 200 ribu sampai Rp 600 ribu.
Hal yang sama juga dirasakan oleh sopir angkot jalur ADL Rudi Eko Prasetyo. Ia sering kali tidak mendapatkan penumpang, sehingga harus mengandalkan carteran. “Biasanya mahasiswa perikanan Universitas Brawijaya yang mau praktik di daerah Tumpang (Kabupaten Malang),” tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, juga dari kampus lain seperti Universitas Negeri Malang (UM) maupun Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang. ”Kadang mereka rombong menuju ke lokasi praktik,” katanya.(dur/dan)
Editor : Mahmudan