MALANG KOTA - Rangkaian peringatan Nyepi dimulai sejak kemarin (10/3).
Upacara hari besar umat Hindu tersebut dibuka dengan Tawur Agung Kesanga.
Itu merupakan upacara untuk keselarasan dan kesejahteraan alam.
Di Malang, upacara tersebut diselenggarakan di depan Balai Kota Malang.
Dimulai dengan persembahan tari rejang renteng, persembahyangan bersama, hingga kirab ogoh-ogoh.
Ada sembilan ikon ogoh-ogoh dan ikon budaya yang diarak.
Yang pertama adalah ogoh-ogoh Bhatara Kala dari STAH.
Lalu, ada dua ogoh-ogoh lainnya dari SMKN 11 Kota Malang yang bernama Tarakasur dan Jalandhar.
Juga ada ogoh-ogoh Sang Kala Kalimaya dari Desa Kesamben, ogoh-ogoh Wong Samar, ogoh-ogoh Kereb Akasa, serta ogoh-ogoh Aras Ijomaya dari Desa Jamuran.
Selain itu, ada dua ikon budaya yang juga diarak.
Yakni barongsai dari Klenteng Eng An Kiong dan Tajinan.
Seluruh ikon budaya tersebut diarak dari Balai Kota Malang hingga Kajoetangan Heritage.
Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika mengatakan, Tawur Agung Kesanga dipusatkan di Balai Kota Malang.
Tujuannya untuk pembersihan jagat di awal menjelang Nyepi dan menyerap energi negatif.
”Yang istimewa kali ini, Nyepi bersamaan dengan awal puasa,” ucapnya.
Menurut dia, hal itu menjadi bentuk menjaga toleransi dalam bermasyarakat.
Semula umat Hindu merasa tidak yakin, tapi akhirnya bisa difasilitasi.
”Total, ada 1.000 umat Hindu dari seluruh Malang Raya yang mengikuti acara ini,” imbuhnya. Selanjutnya, dia mengatakan, ada rangkaian Catur Brata Penyepian.
Dalam hal ini masyarakat Hindu tidak boleh bepergian, menyalakan api, dan menggelar hiburan agar tidak diganggu energi negatif.
Sementara itu, PJ Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, meski bersamaan dengan puasa, pihaknya tetap mendukung penuh kegiatan umat Hindu.
”Ini merupakan bentuk kerukunan umat beragama di Kota Malang. Sama seperti agama lain, Hindu juga kami fasilitasi,” ucapnya. (mel/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana