KAJOETANGAN Heritage menawarkan wisata paket komplet.
Selain menyuguhkan bangunan bersejarah disertai menu tempo dulu, juga ada wisata religi.
Sebab di kawasan yang setiap harinya dikunjungi sekitar 1.500 wisatawan itu ada makam Mbah Honggo Koesomo.
Lokasinya di Jalan Basuki Rahmat Gang 4.
Tidak sulit mencari makam tokoh yang menjadi bagian dari pasukan pangeran Diponegoro itu.
Ada papan petunjuk yang mengarahkan wisatawan menuju makam.
Selain itu, ada papan huruf besar berwarna putih dan merah dengan tulisan "Makam Mbah Honggo" di pintu utama sebelum masuk makam.
Lalu masyarakat bisa menaiki anak tangga untuk bisa melihat makam.
Sore itu (2/4), suasana makam sepi.
Tampak seorang perempuan yang membersihkan area makam.
Dialah Susanna, juru kunci makam Mbah Honggo.
Sembari bersih-bersih, Susanna menunjuk beberapa makam.
Ada tiga makam yang dilindungi pagar berwarna biru.
Dua di antaranya merupakan makam Mbah Honggo dan rekannya, pangeran Soerohadi Merto atau kiai Ageng Peroet.
"Lalu satu makam lagi yang bersebelahan milik Mba Ram," kata Susanna sembari menunjuk satu makam yang lokasinya terpisah.
Makam Mbah Honggo sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.
Penetapannya tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Malang Nomor 188.45/487/37.73.112/2021.
Dalam SK tersebut dijelaskan bahwa Mbah Honggo merupakan guru ngaji Bupati Malang pertama, Raden Tumenggung Notodiningrat I.
Mbah Honggo atau Pangeran Onggo Koesomo merupakan salah satu panglima laskar Pangeran Diponegoro.
Setelah Perang Jawa selesai pada 1830, banyak pengikut Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke seluruh Jawa Timur.
Mereka juga menggunakan nama-nama samaran.
Selain Mbah Honggo, ada pula pengikut Pangeran Diponegoro lainnya.
Di antaranya kiai Ageng Peroet yang makamnya bersebelahan dengan Mbah Honggo.
Lalu ada Mbah Wastu yang pergi ke Batu dan Mbah Joego atau kiai Zakaria II di Gunung Kawi.
Kisah Mbah Honggo tidak hanya bisa diketahui lewat makam.
Namun juga sebagian keturunannya yang masih hidup.
Salah satunya adalah Dosen Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Budi Fathony.
Secara silsilah, Budi merupakan generasi ketujuh dari Paguyuban Bani Khoiron atau keturunan Mbah Honggo.
Tepatnya dari keluarga ayahnya, Yazid.
Dari cerita turun temurun yang didengar Budi, semasa hidup Mbah Honggo dikenal ahli ibadah.
"Untuk menghindari kejaran pasukan Belanda, dia juga menyamar sebagai guru ngaji Bupati Malang pertama," ungkapnya.
Setelah perang Jawa, Mbah Honggo pergi ke kampung Kajoetangan.
Kini dikenal sebagai Kajoetangan Heritage.
Kawasan tersebut dipilih karena di dalamnya terdapat Sungai Kerangkeng.
Aliran sungai itu sampai ke kali Sukun.
"Karena dekat sungai sebagai sumber kehidupan, akhirnya Mbah Honggo menetap di sana," terang Budi.
Selain dekat sungai, lokasi yang dipilih Mbah Honggo dulunya masih berupa hutan lebat dan memiliki kesan angker.
Konon, orang yang melarikan diri ke sana tidak bisa ditemukan.
Kini, Budi sendiri masih terus menggali asal-usul dan sejarah Mbah Honggo.
Penggalian asal-usul itu sudah dilakukan Budi sejak 2012 silam.
Tepatnya setelah seorang kerabatnya yang sudah sangat sepuh memberinya wasiat untuk mencari sosok Mbah Niti di Batu.
Sosok tersebut diyakini mengetahui asal-usul Malang, termasuk Mbah Honggo.
Hingga kemudian Budi bertemu dengan Mbah Nachrowi dalam acara diskusi bersama Wali Kota Batu Edy Rumpoko.
Dari cerita Mbah Nachrowi, Budi akhirnya mulai menggali soal Mbah Honggo.
Terkait peninggalan dari Mbah Honggo, Budi menyebut bahwa Mbah Honggo tidak meninggalkan ciri khas khusus.
Hanya saja Mbah Honggo memiliki peran dalam penyebaran Islam di Kajoetangan.
Terbukti dengan mayoritas masyarakat di Kajoetangan Heritage yang sampai sekarang muslim.
"Tapi ada pula dari lintas agama lain," imbuhnya.
Ada pun tradisi bermuatan Islam yang sampai sekarang dilestarikan adalah pengajian dan tahlilan.
"Ya tradisi Islam pada umumnya," ucapnya.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana