MALANG KOTA – Pekan depan, kebakaran hebat di Malang Plaza genap berusia satu tahun.
Sayangnya, sejak terbakar pada 2 Mei 2023 hingga sekarang, kondisi bangunan yang berdiri sejak 1985 itu belum berubah.
Baik pemilik bangunan maupun pengelola Malang Plaza masih menunggu investor yang berminat membelinya dengan harga Rp 75 miliar.
Pantauan koran ini kemarin (24/4), kondisi Malang Plaza masih sama seperti tahun lalu.
Bagian yang masih utuh yakni parkiran di tiga lantai.
Sisanya tinggal kerangka bangunan, rolling door, dan dinding.
Beberapa bagiannya tidak terawat. Ada yang berkarat.
Ada juga yang gosong bekas kobaran api.
Seluruh akses menuju ke dalam bangunan ditutup.
Pintu di dekat Hotel Santosa ditutup dengan atap fiberglass.
Sementara pintu lain di dekat parkir kendaraan lantai satu ditutup dengan spanduk dari kios-kios.
Tak sembarang orang bisa masuk.
”Tidak boleh masuk. Kalau mau masuk harus bawa surat izin yang nanti ditunjukkan ke atasan kami,” kata seorang penjaga yang enggan disebutkan namanya.
Aturan tersebut diberlakukan sejak Malang Plaza terbakar.
Hanya para penyewa tenant yang butuh mengambil barang-barang tersisa dan pengelola yang bisa masuk.
Setelah seluruh barang yang tersisa diambil para tenant, Malang Plaza menjadi jarang dikunjungi.
Meski demikian, terkadang ada pengelola yang datang untuk keperluan tertentu.
”Ada juga petugas provider seperti dari Telkomsel. Karena kan infrastruktur mereka di dalam,” tambah penjaga tersebut.
Sebagian bangunan Malang Plaza masih tersisa.
Ada guest house dan toko elektronik Alibaba.
Beberapa bangunan itu masih aktif digunakan karena tidak terdampak kebakaran.
”Satu bulan setelah kebakaran, toko yang di luar kembali kami buka,” cerita salah seorang pegawai Toko Alibaba yang bernama Umar.
Meski toko di luar Malang Plaza tidak terdampak, manajemen Alibaba harus menelan pil pahit.
Sebab, lima toko lain di dalam pusat perbelanjaan yang dibangun dengan biaya Rp 3 miliar itu hangus terbakar.
Kerugian mereka diperkirakan mencapai Rp 4 miliar. Itu belum termasuk kerugian dari 13 pemilik stan dan 137 tenant.
Hingga kini, baik pemilik stan maupun tenant masih berupaya bangkit pasca kebakaran Malang Plaza.
Para pemilik stan masih menanti kompensasi dari pengelola Malang Plaza.
Seperti disampaikan Gunadi Handoko, kuasa hukum mereka.
Gunadi mengaku, beberapa waktu lalu pihaknya diundang Komisi B DPRD Kota Malang untuk hearing.
Itu digelar sebelum Lebaran.
Seluruh pemilik stan hadir.
Termasuk pemilik bangunan dan jajaran pengelola Malang Plaza.
”Sebetulnya sudah ada kesepakatan untuk pemberian nilai kompensasi, tapi waktunya masih menunggu,” kata dia.
Menurut Gunadi, besaran kompensasi yang diberikan kepada setiap pemilik stan bervariasi.
Perhitungannya didasarkan pada luas stan atau toko yang dimiliki.
Semakin besar lokasinya, semakin besar kompensasi yang diberikan.
Begitu pula sebaliknya.
Dalam proses hearing bersama dewan, pemilik bangunan maupun pengelola Malang Plaza berdalih masih menunggu investor.
Sebab, saat ini bangunan Malang Plaza sedang dalam proses dijual.
Sempat ada satu investor asal Malang yang berniat membeli Malang Plaza.
Namun, investor tersebut urung membeli.
Sejak itu, belum ada lagi yang berminat.
Pihaknya mendorong agar pemilik bangunan maupun pengelola segera memberi kepastian terkait waktu pembayaran kompensasi.
Mereka memberi tenggat waktu hingga 2 Mei mendatang.
Jika tak segera ada kepastian, para pemilik stan akan menempuh jalur hukum.
Minimal, mereka berharap pihak Malang Plaza bisa memberi uang muka kompensasi sebagai bukti keseriusan.
Terpisah, pihak pemilik bangunan Malang Plaza saat ini sedang menunggu Rapat Umum Hasil Pemegang Saham (RUPS).
Tujuannya untuk mendiskusikan permintaan pemberian uang muka kompensasi.
”Buat kami satu tahun ini bukan tenggat waktu. Karena sebenarnya kami juga korban dan dirugikan atas kebakaran yang terjadi,” kata Ridwan Rachmat, kuasa hukum pemilik bangunan Malang Plaza.
Ridwan menyebut bahwa pihak Malang Plaza tidak bersalah.
Sebab, dari penyelidikan kepolisian, disimpulkan bahwa penyebab kebakaran bukan diakibatkan mereka.
Api awalnya berasal dari Bioskop Mandala.
Pihak Malang Plaza sudah melakukan berbagai upaya, termasuk mencari investor baru.
Sebab, pemilik bangunan memutuskan untuk menjual bangunan di sana.
Nominal yang ditawarkan Rp 75 miliar.
Selain itu, mereka juga rutin berkomunikasi dengan 13 pemilik stan.
Hal tersebut dibuktikan dengan surat menyurat dan perundingan yang dilakukan selama ini.
”Pernah ada rencana untuk memberi tali asih, tapi pemberiannya memang disepakati setelah Malang Plaza terjual,” terang advokat dari Ridwan Rachmat & Partners Advokat tersebut.
Tak hanya kepada investor, saat hearing, legislatif juga menyarankan agar pihak Malang Plaza membuat penawaran ke pemkot.
Terlebih, pemkot sedang membutuhkan bangunan untuk kebutuhan parkir di sekitar Alun-Alun Merdeka.
”Kami pun sangat terbuka kepada semua pihak yang berminat,” tambah Ridwan.
Sementara itu, ditanya perihal langkah hukum yang akan ditempuh pemilik stan jika tak segera mendapat kepastian, Ridwan turut menghormatinya.
”Namun, kami berharap agar masalah ini diselesaikan dengan baik. Kalau perlu duduk bersama di notaris. Karena kedua belah pihak sebenarnya sama-sama pemilik aset,” kata dia.
APPBI Berharap Bisa Dibangun Lagi
Kabar Malang Plaza ditawarkan ke investor baru sudah diketahui Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Malang.
Meski belum ada yang membelinya, Malang Plaza masih terdaftar sebagai anggota APPBI Malang.
Pengelola Malang Plaza juga masih menempati jabatan bendahara sejak tiga tahun yang lalu.
Ketua APPBI Malang Suwanto menyebut, pihak Malang Plaza memang sudah meminta untuk dinonaktifkan dari keanggotaan.
Namun pihaknya tetap menggandeng agar silaturahmi tetap terjadi.
Sebab, bagaimanapun juga Malang Plaza sudah meramaikan sektor perbelanjaan di Kota Malang sejak 38 tahun lalu.
”Masih menjadi anggota, tetapi sudah tidak aktif karena tidak ada bangunannya,” tutur dia.
Menjadi Mal pertama di Malang, eksistensi Malang Plaza sebenarnya cukup besar.
Meskipun tumbuh berbagai pusat perbelanjaan baru, Malang Plaza tetap memiliki pasar yang sangat kuat.
Suwanto mengatakan, hingga sebelum terbakar, masih banyak yang memilih berbelanja gadget di sana.
Beranjak dari sana, dia berharap Malang Plaza bisa dibangun kembali sebagai mal baru.
Sementara itu, Pengelola Malang Plaza Laurencia Ike Anggriani mengakui belum ada tindakan apa pun kepada bangunan Malang Plaza pasca kebakaran.
”Masih belum tahu (akan ada renovasi atau tidak), masih menunggu keputusan rapat direksi,” tutur dia.
Dia juga menyampaikan bahwa dia sudah pensiun dari jabatan pengelola Malang Plaza. (mel/dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana