Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Inilah Alasan Mengapa PDAM Kota Malang Harus Tambah Pasokan Air 500 Liter per Detik! Anda Harus Tahu!

Bayu Mulya Putra • Senin, 1 Juli 2024 | 20:16 WIB
Water Treatment Plan Kota Malang
Water Treatment Plan Kota Malang

MALANG KOTA – Beberapa Pekerjaan Rumah (PR) sudah menanti direksi baru Perumda Tugu Tirta (PDAM) Kota Malang.

Salah satunya yakni mencari alternatif sumber air baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Saat ini, pengembangan sumber air mulai difokuskan di dalam kota.

Salah satunya di Kali Bango, Kecamatan Blimbing.

Di sana, PDAM bersama Perum Jasa Tirta (PJT) I membangun Water Treatment Plan (WTP).

Fasilitas itu juga biasa disebut dengan Instalasi Pengolahan Air (IPA).

Dalam pengem bangannya, WTP ditarget memiliki kapasitas hingga 500 Liter Per Second (LPS).

Dengan kapasitas itu, WTP bisa menjangkau 50 ribu Sambungan Rumah (SR).

Selain WTP, PDAM juga sedang menambah kapasitas air di Sumber Pitu.

Jaringan pipa transmisi Sumber Pitu di Desa Pulungdowo dan Desa Kidal, Kecamatan Tumpang mulai diganti.

Panjangnya sekitar 2,1 kilometer.

Jenis pipa baru yang digunakan yakni galvanized iron pipe (GIP).

Pipa berbahan baja itu diklaim tidak mudah pecah dan bisa bertahan hingga 50 tahun.

”Sekarang penggantian pipanya sudah berjalan hampir 50 persen sejak April kemarin,” kata Plt Direktur Administrasi dan Keuangan PDAM Kota Malang Sulis Andri Asmawan.

Sulis melanjutkan, kapasitas pipa Sumber Pitu rencananya bakal ditingkatkan menjadi 120 LPS.

Arah pengembangan layanan mengarah ke timur dan selatan, melalui layanan tandon buring atas (burtas).

Tujuannya agar kebutuhan air warga di Kecamatan Kedungkandang bisa terlayani dengan baik.

”Sebelumnya, kapasitas Sumber Pitu hanya 40 LPS, kalau dipaksa di tingkatkan bisa pecah (pipanya), karena itu harus diganti,” tambah Sulis.

Di samping dua sumber air itu, ada beberapa sumber yang sudah dimanfaatkan PDAM.

Seperti di Sumber Wendit, Sumber Air Sumbersari, Sumber Karangan, Sumber Binangun, dan sumur.

Di Kota Malang, total ada 18 sumur yang dimanfaatkan PDAM.

Kapasitas masing-masing sekitar 20 LPS.

Misalnya saja sumur di dekat Candi Badut, TPA Supit Urang, Tlogomas, Betek, Jalan Juwet, serta Dieng.

Meski demikian, sumber air yang tersedia belum bisa memenuhi kebutuhan pelanggan.

Dari catatan PDAM hingga Mei 2024, jumlah pelanggan mencapai 178.233 SR.

Dengan jumlah pelanggan tersebut, total kapasitas sumber yang dibutuhkan sebesar 2.200 LPS.

Sementara yang sudah terpenuhi sekarang baru 1.700 LPS.

Paling banyak disuplai dari Sumber Wendit yang dalam Surat Izin Pemanfaatan Air Tanah (SIPA) tercatat kapasitasnya 1.500 LPS.

Sebenarnya, kapasitas Sumber Wendit masih bisa dimaksimalkan.

Sebab, sampai saat ini PDAM Kota Malang baru mendapat 1.100 LPS.

Pompa Sumber Wendit yang sudah ada sejak zaman Belanda menjadi penyebabnya.

Itu berdampak terhadap kinerja pipa, sehingga kurang maksimal.

Level sumber itu juga fluktuatif.

Kalau terlalu banyak disedot, normalisasinya berlangsung lama.

Sulis menyebut, ada dua sumber air lagi yang masih bisa digali potensinya.

Lokasinya di Kelurahan Pisangcandi (Sumbersareh) dan Kelurahan Merjosari.

”Namun, kami belum akan mengarah ke dua sumber tersebut. Karena pengembangan sumber air baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” jelas dia.

Secara estimasi, pembuatan sumur saja bisa memakan biaya Rp 700 juta.

Itu belum termasuk infrastruktur pendukung seperti bak penangkap air dan pipa.

Selain itu, Sulis menyebut bahwa pihaknya pernah melakukan survei di aliran Kali Amprong bagian barat.

Namun, di sana ternyata banyak dimanfaatkan sebagai irigasi.

Jika digunakan untuk sumber air, dikhawatirkan mengganggu pertanian di Kecamatan Ke dungkandang.

”Kualitas airnya juga tidak se bagus di Kali Bango yang me rupakan limpahan Sumber Wendit. Jadi, kalau di manfaatkan perlu biaya lebih besar,” bebernya.

Upaya mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat diperlukan.

Itu karena sumber air di Kota Malang minim.

Menurut Kepala Departemen Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) Runi Asmaranto, memang ada sumber-sumber kecil.

Namun, perlu diuji apakah sumber-sumber tersebut bisa terjamin keberlanjutannya.

Runi berpendapat, langkah yang dilakukan pemkot sejauh ini sudah tepat.

Salah satunya yakni meningkatkan kapasitas Sumber Pitu.

”Ke depan pemkot harus bisa melakukan pengelolaan secara optimal. Apalagi sekarang sudah terbangun pipa transmisi ke tandon Burtas. Tinggal diperbaiki aspek teknis maupun administrasi,” papar dia.

Yang tidak kalah penting, lanjut Runi, yakni melanjutkan pembangunan WTP.

Sebab, jika bergantung pada sumber air kecil atau air tanah, itu tidak akan cukup.

Pemanfaatan air tanah juga memiliki catatan khusus.

Sebab, pemanfaatan air tanah berpotensi menyebabkan beberapa kondisi.

”Salah satunya penurunan muka air tanah,” imbuh dia.

Di tempat lain, Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyebut ada tiga PR direksi baru PDAM.

Yang pertama memang produksi air baku.

Diketahui hingga 2024, produksi air baku Perumda Tugu Tirta mencapai 1.700 liter per detik.

Idealnya, berada di angka 1.800 hingga 2.000 liter per detik.

"PR utamanya pelayanan kepada masyarakat. Dengan pe ningkatan produksi, kekurangan air bisa diminimalisir," terang Wahyu.

Dia menambahkan, dari evaluasi direksi sebelumnya, terlihat ada peningkatan potensi kehilangan air baku.

Pada 2022 tercatat di angka 14 persen.

Meningkat pada 2023 menjadi 16 persen dan 2024 menjadi 19 persen.

"Kehilangan air baku itu menjadi evaluasi pimpinan sebelumnya. Sehingga untuk pimpinan baru kami harapkan bisa dikurangi," tambah Wahyu.

Selain pelayanan dengan peningkatan air baku, pemilik Kursi N1 itu juga menargetkan adanya peningkatan setoran dari PDAM Kota Malang ke Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Per tahun, setoran rata-rata di angka Rp 20 miliar hingga Rp 23 miliar.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Kota Malang Lookh Mahfudz mengatakan, direktur baru diharapkan bisa menjalin komunikasi baik dengan pihak lain.

Salah satunya dengan PDAM Kabupaten Malang.

Sebab, sering terjadi konflik pemanfaatan Sumber Pitu yang berada di wilayah Kabupaten Malang. (mel/adk/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Liter #air #pdam kota malang