Mayoritas Mengalami TBC Sensitif Obat
MALANG KOTA - Jumlah penderita tuberkulosis (TBC) di Kota Malang masih cukup tinggi.
Selama enam bulan terakhir, tercatat 1.132 warga menderita penyakit yang menyerang paru-paru itu.
Angka tersebut diprediksi akan terus meningkat hingga akhir Desember.
Berkaca pada dua tahun terakhir, angka penderita TBC di Bumi Arema menunjukkan peningkatan (selengkapnya baca grafis).
Berdasar data dinas kesehatan (dinkes), ribuan kasus itu terbagi menjadi beberapa kategori.
Pertama, 1.120 orang mengalami TBC sensitif obat dengan 955 orang sudah diobati.
Kedua, 12 orang mengalami TBC resisten obat dan seluruhnya sudah ditangani.
Kasus TBC juga tidak hanya dialami orang dewasa.
Tercatat 134 anak mengalami TBC sensitif obat dengan 128 anak yang sudah mendapat pengobatan.
Di samping itu, ada 122 kasus TBC yang disertai komorbid diabetes melitus.
Sekretaris Dinkes Kota Malang dr Umar Usman mengatakan, tahun ini pihaknya ditarget bisa menemukan 3.055 kasus TBC.
Target itu dilakukan untuk memudahkan dinkes dalam mendeteksi dini penyakit TBC.
”Jika ditemukan, harus segera diobati agar penularan TBC tidak semakin meluas,” kata dia kemarin (15/7).
Apalagi, lanjut Umar, Indonesia menjadi negara kedua dengan kasus TBC tertinggi di dunia setelah India.
Yakni dengan estimasi sebanyak 969.000 kasus dan 144 ribu kematian per tahun.
Untuk mengatasi persoalan TBC, pemerintah pusat menetapkan target eliminasi pada 2030.
Upayanya yakni menambah fasilitas kesehatan yang mampu mengidentifikasi TBC.
”Di Kota Malang, sudah banyak faskes yang bisa mengidentifikasi TBC seperti Puskesmas Rampal Claket,” sebutnya.
Kemudian, dinkes juga memperluas surveilans berbasis laboratorium.
Data tersebut nantinya akan menjadi dasar TB Army untuk melacak pasien yang putus berobat.
Serta langkah terakhir adalah mengembangkan vaksin TBC.
Pihaknya pun sudah melakukan berbagai upaya untuk pengentasan TBC.
Antara lain dengan promosi kesehatan, pengendalian faktor risiko, hingga pengobatan.
Terpisah, dokter spesialis pernapasan RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Rezky Tantular SpP(K) FAPSR menjelaskan, penyakit TBC bisa disebabkan berbagai faktor.
Mulai dari kurang gizi, daya tahan tubuh yang jelek, hingga lingkungan.
Rezky menambahkan, proses inkubasi TBC cukup lama.
Dengan demikian, banyak yang tidak menyadari jika sudah sakit.
Baik orang dewasa maupun anak-anak.
”Karena itu, masyarakat sebaiknya waspada terhadap gejala seperti batuk, demam, dan berkeringat pada malam hari,” tegasnya. (mel/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana