"Ada Hal-Hal yang Membuat Saya Luluh”
Wahyu Hidayat sudah memutuskan ikut kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) Kota Malang 2024.
Mematuhi aturan, ia mengajukan surat pengunduran diri dari jabatan penjabat (pj) wali kota.
Ia pun musti rela menanggalkan kariernya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang masih lebih dari dua tahun.
Apa yang mendorongnya mengambil keputusan itu?
Ini bukan keputusan yang ringan.
Baca Juga: Bertemu PJ Wali Kota Malang, Imigrasi Malang Bahas Isu Strategis Keimigrasian
Mengapa Anda rela melepaskan jabatan dan karier yang diincar banyak orang itu?
Memang bukan hal yang ringan ketika saya akhirnya mengambil keputusan ini.
Tapi, dorongan dan desakan dari masyarakat yang kian hari kian menguat agar saya ikut maju (sebagai calon wali kota) membuat saya merenung.
Saya tidak boleh egois.
Tidak boleh hanya mikir diri sendiri dan keluarga.
Di situlah saya luluh.
Maksudnya egois bagaimana?
Ya, kalau saya egois, hanya mikir diri sendiri dan keluarga, lebih baik saya melanjutkan jabatan pj wali kota ini.
Masih sampai September.
Bahkan, menurut aturan, masih bisa diperpanjang satu tahun lagi jika dibutuhkan.
Setelah selesai jadi pj wali kota pun, saya masih bisa kembali sebagai sekda kabupaten.
Usia pensiun saya masih sekitar 2,5 tahun lagi.
Dan, semua itu kan lebih pasti dibanding ikut kontestasi ini.
Baca Juga: Direksi Baru PDAM Diumumkan Akhir Pekan, Pj Wali Kota Malang Bakal Konsultasi dengan Tim Pansel
Dengan mengirimkan surat pengunduran diri, berarti Anda rela kehilangan gaji serta semua fasilitas yang melekat, baik sebagai pj wali kota maupun sekda yang masih mungkin Anda jabat lagi?
Ya. Itu konsekuensi yang saya sadari betul begitu memutuskan untuk menerima desakan masyarakat untuk maju tersebut.
Makanya, saya katakan tadi, ini keputusan yang memang tidak ringan.
Akan tetapi, ada hal-hal yang akhirnya membuat saya luluh dan kemudian bismillah, saya terima dorongan dan desakan masyarakat itu.
Lalu, sebagai bentuk ketaatan, saya pun harus mematuhi surat edaran Mendagri.
Yaitu dengan mengirimkan surat pengunduran diri dari jabatan pj wali kota.
Dan, sambil menunggu dilantiknya pj wali kota yang baru, saya harus tetap menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepada saya sebagai pj wali kota Malang.
Bagaimana reaksi keluarga Anda atas keputusan ini?
Istri, anak, dan menantu menyerahkan semua kepada saya.
Sebagai keluarga, mereka akan mendukung apa pun yang saya putuskan.
Termasuk berlapang dada menerima konsekuensi-konsekuensi seperti itu tadi.
Siapa sih sebenarnya masyarakat yang mendorong dan mendesak Anda untuk ikut mencalonkan diri dalam pilwali kali ini?
Banyak dan dari berbagai kalangan.
Itulah yang kemudian membuat saya luluh.
“Ayolah Pak Wahyu, jangan cuma jadi pj. Biar yang lain-lain bisa terselesaikan.”
Itu yang berkali-kali dikatakan kepada saya.
Baca Juga: DPRD Kota Malang Usulkan Erik Jadi Pj Wali Kota
Awalnya, saya tidak terlalu menanggapi.
Apalagi saya juga masih punya karir sebagai PNS.
Tapi, lama-lama kok semakin banyak yang minta seperti itu.
Meskipun sudah saya sampaikan juga soal karir saya itu, mereka terus bersikukuh mendorong saya untuk maju.
Ada harapan-harapan yang dititipkan kepada saya.
Begitu menjabat pj wali kota, Anda dinilai sukses membebaskan lahan di exit tol Madyopuro. Apakah itu juga yang menjadi alasan mereka?
Itu salah satunya.
Secara eksplisit sempat disampaikan kepada saya.
Meskipun, sudah saya bilang, saya tidak mungkin juga menyelesaikan itu sendirian.
Dari situ, muncul harapan agar saya bisa menyelesaikan problem kemacetan lalu lintas di Kota Malang.
Ada lagi harapan-harapan lain, seperti soal penanganan banjir dan penataan pasar.
Mungkin karena mereka melihat basic saya sebagai ahli tata kota dan melihat apa yang sudah saya kerjakan selama menjadi pj wali kota ini.
Sebagai insinyur perencana tata kota, Anda melihat problem kemacetan lalu lintas di Kota Malang seperti apa sih?
Kemacetan lalu lintas itu tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, yaitu lalu lintasnya saja.
Dari jumlah kendaraannya saja, misalnya.
Tapi, juga harus dilihat dari tata ruangnya.
Penggunaan lahannya.
Dua-duanya harus berjalan seiring dan selaras.
Dan, dua-duanya sudah ada forumnya.
Yaitu, forum lalu lintas dan forum tata ruang yang terdiri dari berbagai unsur di dalamnya.
Keduanya harus duduk bersama.
Kalau dari Anda sendiri, apa tawaran gagasannya?
Salah satu yang saya lihat adalah terkonsentrasinya pusat keramaian di tengah kota.
Itu yang memicu pergerakan semua kendaraan ke tengah kota.
Ini yang harus dipecah.
Caranya?
Membagi pusat-pusat keramaian itu.
Misalnya, saat ini semua kendaraan, terutama saat weekend, bergerak ke Kayutangan.
Maka, konsentrasi itu perlu dipecah.
Salah satu alternatifnya ke Jl Soekarno-Hatta.
Saya melihat ada ruang yang masih cukup di sana.
Ruas jalannya diperlebar, saluran airnya diperbaiki dengan membuat sudetan ke Sungai Brantas, lalu disediakan wisata milenial untuk menarik anak-anak muda lengkap dengan parkir yang memadai.
Itu bisa mengurai tiga problem sekaligus.
Arus lalin di Soehat pada jam-jam normal lebih lancar, genangan air di Soehat kalau turun hujan lebih cepat surut, dan kepadatan lalu lintas di sekitar Kayutangan bisa terurai. (*)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana