KEMACETAN juga menjadi salah satu masalah yang tengah diurai Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat.
Wahyu berusaha mengubah sistem transportasi publik yang saat ini mulai jarang dilirik masyarakat.
Padahal, cara tersebut bisa menjadi upaya mengurai macet yang kerap terjadi setiap hari.
Baca Juga: Sampai Miliaran! Segini Anggaran Angkot BTS Kota Malang bila Beroperasi
Upaya yang dilakukan yakni menyusun sistem angkot buy the service (BTS).
Wahyu mengatakan, sebenarnya ada 25 trayek angkot yang tercatat di data Pemkot Malang.
Namun, yang aktif hanya 17 trayek.
Untuk trayek yang masih aktif, akan dimaksimalkan.
Misalnya saja trayek AG (Arjosari - Gadang), GA (Gadang [1]Arjosari), AL (Arjosari - Landungsari), GL (Gadang - Landungsari), MM (Madyopuro - Mulyorejo), dan MK (Mulyorejo - Klayatan/Sukun).
”Di beberapa trayek itu load factor atau jumlah penumpang masih banyak. Satu kali jalan bisa lima sampai tujuh penumpang,” terang Wahyu.
Di samping itu, pihaknya berencana melakukan perbaikan layanan seperti di terminal dan tempat pemberhentian.
Dengan begitu, pengguna lebih nyaman.
Sopir angkot juga tidak mencari pelanggan atau ngetem di luar terminal.
Sebagai contoh di Terminal Arjosari. Ada selasar yang rencananya diperbaiki.
Tidak hanya perbaikan, dishub juga akan berkoordinasi bersama Satgas Terminal Tipe A Arjosari untuk layanan lain.
”Layanan lainnya bisa jadi ada ruang untuk seluruh angkutan online maupun offline,” imbuh Wahyu.
Baca Juga: Soal Nasib Sopir dan Angkot, Pemkot Malang Janjikan Skema BTS Tahun Depan
Selain mengkaji trayek yang aktif, pihaknya juga memberi atensi terhadap delapan trayek lainnya.
Antara lain ASD (Terminal Arjosari - Jalan Sarangan - Dieng) dan TSG (Tawangmangu - Jalan Soekarno-Hatta - Gasek).
Ke depan, trayek yang tidak aktif bisa jadi akan diintegrasikan.
Utamanya agar bisa terhubung dengan lokasi-lokasi anak sekolah, pasar, hingga wisata.
Terpisah, Sekretaris Organda Kota Malang Purwono Tjokro Darsono menyatakan setuju dengan rencana pemkot untuk mulai meninjau trayek.
Usulan itu sebenarnya juga sudah lama disampaikan.
Menurut dia, perlu ada desain trayek yang terintegrasi.
Terutama di lokasi-lokasi yang menjadi pusat tujuan masyarakat.
”Seperti terminal, pasar, wisata, dan sekolah,” sebut pria yang akrab disapa Ipung tersebut. (mel/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana