MALANG KOTA – Deretan gambar mata uang Indonesia dari masa ke masa tampak terpampang di salah satu ruang Museum Brawijaya kemarin (31/7).
Mulai dari masa Kerajaan Mataram, masa pendudukan Kolonial Belanda, Jepang, Rupiah Dwi Tunggal pada 1951, dan juga rupiah yang beredar saat ini.
Semuanya dipajang dalam rangka edukasi cinta, bangga, dan paham rupiah yang digencarkan oleh Bank Indonesia.
Di balik gambar mata uang itu juga terdapat foto pahlawan yang ada di setiap pecahan rupiah beserta penjelasannya.
Sementara di sampingnya terdapat layar digital yang menampilkan gambar-gambar mata uang rupiah secara bergantian.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebutkan, cinta dan bangga pada rupiah merupakan bentuk bela negara tanpa senjata.
“Kedaulatan suatu negara juga ditentukan oleh bagaimana negara tersebut menjaga mata uangnya,” tutur perempuan yang juga Ketua Umum Paguyuban Mas Trip Jawa Timur tersebut.
Karena itu, penempatan sejarah rupiah di dalam museum juga bertujuan untuk memperkuat nasionalisme.
Apalagi di dalam mata uang rupiah terdapat unsur-unsur sejarah untuk mengenang para pahlawan.
“Selain pahlawan daerah juga ditampilkan tempat-tempat wisata dan budaya Indonesia,” imbuhnya.
Hal tersebut bertujuan agar memperkenalkan kekayaan Indonesia yang beragam.
Sebab tidak banyak negara yang memiliki keberagaman seperti Indonesia.
Di tempat yang sama, BI juga menggelar sosialisasi terkait rupiah kepada 500 pelajar dan mahasiswa di Kota Malang.
Dia meminta generasi muda memperlakukan uang dengan layak.
Tidak boleh diremas-remas, kena air dan disetrika, atau distaples. (dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana