Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjalanan Michael Setiawan Membangun Perusahaan Hospitality serta F&B, Penyakit Ginjal Tak Surutkan Semangat Merintis Usaha

Bayu Mulya Putra • Kamis, 8 Agustus 2024 | 00:30 WIB
PANTANG MENYERAH: Michael Setiawan memberi wejangan ke karyawan-karyawannya di JC Corporate, beberapa waktu lalu.
PANTANG MENYERAH: Michael Setiawan memberi wejangan ke karyawan-karyawannya di JC Corporate, beberapa waktu lalu.

MICHAEL Setiawan tak pernah malu mengakui bahwa dia punya sejumlah privilege dalam dunia bisnis.

Khususnya di bidang hospitality.

Pria kelahiran Jember itu bisa dikatakan mujur.

Dia terlahir dari keluarga yang berada.

Meski begitu, dia sadar bila setiap orang punya garis start yang berbeda-beda.

Kebetulan, kondisinya tidak membuat dia harus memulai semuanya dari nol.

Dia hanya perlu fokus membuat yang sudah ada semakin besar dan berkembang.

Saat ini, pria berusia 37 tahun itu menjalankan operasional dua hotel di Kota Batu.

Yakni Riverstone Hotel and Cottage dan Kontena Hotel.

Dia juga tengah membangun unit bisnis barunya di bidang yang sama di Coban Rondo.

Selain hotel, Michael juga memiliki dua kafe yang cukup eksis di Kota Batu dan Kota Malang.

Perjalanan bisnisnya tak selalu berjalan mulus.

Dia sudah menjajal beberapa jenis bisnis.

Sampai akhirnya bisnis di bidang hospitality serta food and beverage (F&B) yang paling cocok dengannya.

Dua bidang usahanya itu berada dalam naungan perusahaan bernama JC Corporate.

Jiwa bisnis itu tak lepas dari orang tuanya yang memiliki background serupa.

Meski di bidang yang berbeda.

”Kalau orang tua saya bisnisnya di bidang keuangan,” ucapnya.

Namun, kebiasaan mendengar obrolan seputar bisnis membuat keinginannya berbisnis ikut tumbuh.

Saat itu, ayah dari tiga anak itu masih belum punya pandangan untuk menjalankan bisnis apa.

Yang jelas, dia ingin memiliki usaha sendiri.

Michael memulai berbisnis sejak berusia 17 tahun.

Tepatnya saat dia duduk di bangku salah satu SMA swasta di Kota Malang.

Dia hanya menghabiskan masa kanak-kanaknya di Jember hingga lulus SD saja.

Saat SMP hingga SMA, dia sudah kembali ke Malang.

”Semua keluarga asli Malang. Dulu sempat ke Jember karena orang tua pindah tugas di sana,” imbuhnya.

Michael memulai pengalaman bisnisnya dengan sang kakak.

Saat itu, Michael berbisnis di bidang information and technology (IT).

Anak bungsu dari dua bersaudara itu membuat sebuah produk website.

Bisnisnya berjalan cukup lancar.

Beberapa website laku terjual.

Setelah beberapa tahun, bisnis itu terpaksa dia tinggalkan karena harus kuliah di luar negeri.

Salah satu privilege Michael adalah akses pendidikan yang mudah.

Sejak SD, dia selalu masuk ke sekolah-sekolah pilihan yang notabene sekolah terbaik.

Dia juga berkesempatan untuk kuliah di Australia.

Sayangnya, Michael tak bisa menyelesaikan studinya lantaran sakit.

Pria kelahiran 1987 itu menderita sakit Chronic Kidney Diseases (CKD).

Penyakit yang diderita itu merupakan sebuah kondisi kerusakan ginjal yang membuat fungsinya mengalami penurunan secara bertahap.

Sebenarnya itu merupakan penyakit bawaan saat dia lahir.

Namun, efek yang paling parah dia rasakan saat masuk usia 20 tahun.

Itulah yang membuatnya diminta pulang dari Australia dan meninggalkan tanggungan studinya.

”Jadi waktu itu orang tua khawatir dengan kondisi saya. Apalagi jauh dari orang tua,” cerita dia.

Setelah pulang ke Malang, dia lantas melanjutkan studi ke Universitas Ma Chung.

Studinya tetap tidak selesai.

Sebab, saat itu Michael sudah memulai berbisnis.

Berbagai bisnis dia jajal.

Mulai impor barang dari China, baby shop, ternak lele, hingga ternak sapi perah di Kecamatan Pujon.

Dari semua bisnis yang dia lakoni, ternak sapi perah lah yang dia seriusi saat itu.

Tapi bisnis itu terpaksa harus berhenti di tengah jalan karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Itu sekaligus menjadi titik terendah dalam hidupnya.

Sebab, saat itu pula dia harus melakukan operasi pengangkatan salah satu ginjalnya.

Kondisi itu membuat dia harus menjalani treatment medis sampai saat ini.

Setelah itu, baru Michael nyemplung dalam dunia bisnis hospitality.

Dimulai dari Riverstone Hotel and Cottage yang dia bangun sejak 2013.

”Dari situ mulai berkembang sekitar tahun 2018,” ucapnya.

Setelah itu, unit bisnis lainnya satu per satu dibuka.

Kendati sukses berbisnis tanpa embel-embel gelar akademik, Michael tak pernah menyepelekan peran pendidikan.

Baginya, pendidikan tetap penting.

Karena itu, dalam membangun perusahaannya, dia mengusung tagline learning company.

Ia selalu mendorong para karyawannya untuk terus belajar.

Untuk itu, dia menjadwalkan kelas pembelajaran sebulan sekali untuk semua karyawannya.

”Saya lebih menekankan untuk human skill atau yang lebih dikenal sebagai soft skill,” ungkapnya. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Pengusaha #f&b #perjalanan #Kota Malang #hospitality