MALANG KOTA – Pemkot Malang meluncurkan aplikasi pengawasan kegiatan siswa secara digital di Malang Creative Center (MCC) kemarin (7/8).
Aplikasi berbasis QR code (kode respons cepat) itu diberi nama QRuPI.
Kependekan dari Quick Respons code untuk Pendidikan Indonesia (QRuPI).
QRuPI merupakan hasil kerja sama Pemkot Malang dengan perusahaan teknologi asal Jakarta, Jaxer Indonesia.
Aplikasi tersebut bisa menampilkan data aktivitas siswa.
Mulai dari absensi, nilai, dan kegiatan mereka di sekolah.
CEO Jaxer Indonesia Ansari Kadir mengatakan, sistem kerja QRuPI sangat sederhana.
Nantinya, masing-masing seragam siswa akan diberi QR code.
Untuk merekam aktivitas siswa, guru tinggal melakukan scan di QR code tersebut.
”Misalnya untuk absensi siswa, sebelum ke kelas akan di scan dulu melalui QR. Kalau tidak ter-scan, berarti siswa itu tidak masuk,” tuturnya.
Selain absensi, QRuPI juga bisa diisi guru ketika anak tersebut berkelakuan baik.
Seperti membantu guru atau membersihkan ruang kelas.
Wali murid pun akan lebih mudah memantau kegiatan anaknya.
Tinggal menggunakan gawai pribadi masing-masing.
Tahap pertama, QRuPI sudah diuji coba pada lembaga pendidikan.
Jaxer Indonesia menargetkan tiga tahun depan bisa diterapkan pada seluruh sekolah tingkat SD dan SMP di Kota Malang.
Terkait data pribadi yang digunakan, Ari menekankan tidak memakai Nomor Induk Kependudukan (NIK).
QRuPI hanya merekam nama siswa, nama guru dan nama sekolah.
Sementara itu Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mendukung penerapan QRuPI di lembaga pendidikan.
Menurutnya, sebagai kota pendidikan, peningkatan dalam hal digitalisasi ini sangat penting.
Apalagi penggunaan QRuPI bisa mendorong anak lebih disiplin.
”Perkembangan anak akan lebih terpantau karena orang tua mengetahui aktivitas mereka di sekolah,” kata Wahyu.
Saat ini Pemkot Malang belum mewajibkan sekolah menggunakan QRuPI.
Tetapi, jika ke depan dirasakan dampak positif yang signifikan, pemkot akan meminta semua sekolah menerapkan QRuPI.
”Dari 10 sekolah yang melaksanakan uji coba, mereka merasakan hal positif. Kami harap perlahan bisa diterapkan di sekolah lain,” pungkas Wahyu. (adk/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana