MALANG KOTA - Seorang guru SMAN 3 Kota Malang bernama Achmad Redha Satriya, 29, ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya, Jalan Abdul Qodir Jaelani, Kecamatan Kedungkandang, kemarin (7/8).
Petugas sempat mengalami kesulitan saat melakukan evakuasi karena bobot jenazah mencapai 200 kilogram.
Malam sebelumnya, pria yang juga mengidap penyakit kaki gajah itu mengeluh sesak napas.
Sutini, pemilik rumah kos, menceritakan bahwa sekitar pukul 08.00 kemarin Achmad mengeluh sakit kepala.
Dia langsung menyarankan pria asal Jalan Bratang Gede, Kelurahan Ngagelrejo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya itu berobat ke rumah sakit.
Apalagi malam sebelumnya Achmad sudah mengeluh sesak napas, tapi menolak dibawa ke rumah sakit dan hanya meminta minyak kayu putih.
”Akhirnya Mas Achmad mau dibawa ke rumah sakit. Saya juga yang pesan taksi online,” ujar Sutini.
Sembari menunggu taxi datang, Sutini meminta tolong tetangganya mengecek kondisi Achmad.
Sekitar pukul 18.15, tetangga Sutini bernama Made Kastana, 70, mengecek kondisi Achmad.
Ternyata, Achmad sudah tidak bernapas.
Denyut nadinya juga tidak ada.
Kejadian itu pun langsung dilaporkan ke polisi.
Petugas Reskrim dan Inafis Polresta Malang Kota yang datang bersama personel Polsek Kedungkandang langsung melakukan pemeriksaan.
”Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban, sehingga bisa dipastikan korban meninggal karena sakit,” ucap Kapolsek Kedungkandang AKP Effendi Budi Wibowo.
Sebelumnya, Achmad juga pernah bercerita kepada Sutini bahwa dirinya mengidap penyakit jantung dan kaki gajah.
Penyakit itu sudah diderita Achmad sejak 2017.
Ditambah berat badan yang sudah jauh melebihi normal, Achmad kerap merasakan kendala saat berjalan.
Kepala SMA Negeri 3 Malang Drs Amat MMPd menambahkan, Achmad sudah menderita sakit kaki gajah semenjak pertama kali mengajar di sekolahnya.
”Beliau masuk SMAN 3 Malang sejak 2021,” terangnya.
Sehari-hari Achmad mengajar mata pelajaran seni rupa.
Kondisi kakinya yang membesar membuatnya kesulitan berjalan.
Bahkan, Achmad juga mengenakan celana berukuran besar yang sepertinya memang didesain secara khusus.
”Jalannya susah, tapi tidak sampai pakai tongkat,” beber dia.
Berdasar catatan pihak sekolah, terakhir kali Achmad mengajar pada Senin lalu (5/8).
Setelah itu dia absen karena sakit.
Beberapa bulan lalu Achmad dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo di Surabaya untuk menjalai perawatan.
”Kami juga sempat menjenguk waktu itu bersama guru-guru lainnya,” tandasnya. (aff/ori/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana