Total Panjangnya 3.678 Kilometer, Dominasi Biaya Operasional
MALANG KOTA – Tingginya biaya perawatan jaringan pipa menjadi salah satu alasan Perumda Tugu Tirta (PDAM) Kota Malang mulai mengkaji opsi kenaikan tarif dasar air.
Bentuk perawatan tersebut beragam.
Salah satunya yakni penggantian pipa (selengkapnya baca grafis).
Penggantian pipa biasanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Direktur Teknik PDAM Kota Malang Fauzan Indrawan, ada tiga macam manajemen pipa yang dilakukan pihaknya.
Yakni manajemen pipa dengan usia di atas 20 tahun, pipa dengan usia antara 10 sampai 20 tahun, dan pipa usia di bawah 10 tahun.
”Yang paling urgent untuk diganti tentunya pipa dengan usia di atas 20 tahun. Sebab, kondisi pipa seperti itu rentan mengalami penurunan gradasi,” ungkap Fauzan, kemarin (9/8).
Selain itu, pipa-pipa yang berada di ruas jalur utama itu juga kerap dilintasi kendaraan berat.
Beberapa jaringan pipa di ruas jalan utama seperti di Jalan Ijen, Jalan Husni Thamrin, Jalan Pattimura, dan jalan lain di Kecamatan Klojen.
Beruntung, saat ini sebagian besar pipa masih memiliki kualitas yang baik.
Salah satunya pipa di Jalan Ijen yang usianya sudah 25 tahun.
”Selain di sana, pipa PDAM di Kelurahan Tlogomas juga sudah ada sejak 1913. Saat kami uji, belum terjadi penurunan kualitas pipa,” kata dia.
Namun, biasanya perawatan pipa dilakukan bersamaan jika ada perawatan drainase.
Sebab, biaya perawatan pipa tidak murah.
Fauzan memberi contoh, perawatan satu meter pipa ukuran dua inchi membutuhkan biaya Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu.
Ada pula pipa yang berukuran tiga inch.
Di luar biaya pipa, ada anggaran lain yang digelontorkan.
Salah satunya untuk alat pendukung.
”Misalnya saja, sewa ekskavator senilai Rp 2 juta per hari. Lalu (ongkos) tukang las Rp 1,5 juta per hari,” imbuh dia.
Total panjang pipa PDAM Kota Malang mencapai 3.678 kilometer.
Meliputi pipa sekunder hingga pipa tersier.
Pipa itu tersebar hingga ke daerah lain.
Seperti ke Sumber Banyuning di Kota Batu dan Sumber Pitu di Kabupaten Malang.
Karena itu, perawatan terhadap pipa PDAM dilakukan bertahap.
Dalam satu hari, minimal ada satu persen pipa yang harus dirawat.
Bentuk perawatan yang dilakukan bervariasi.
Misalnya saja, pemantauan di ujung pipa menggunakan logger atau alat untuk mencatat data dari waktu ke waktu.
Melalui logger, bisa diketahui kondisi pipa sehingga kebocoran bisa diantisipasi.
Penggantian pipa menjadi opsi lainnya.
Seperti yang baru-baru ini dilakukan di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Tepatnya di Desa Pulungdowo dan Desa Kidal.
Saat ini, penggantian pipa di Kecamatan Tumpang sudah rampung.
Total yang diganti menjadi 5,7 kilometer hingga Jembatan Kali Buto.
Sebagian pipa, yakni sepanjang 2,1 kilometer dari Desa Pulungdowo sampai Desa Kidal penggantiannya dibantu Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS).
Sisanya menggunakan anggaran PDAM.
Selama proses penggantian, Fauzan menyebut tidak ada keluhan signifikan dari pelanggan, meski aliran air sempat mandek selama dua hari.
Di samping itu, pihaknya juga mendapat bantuan dari Kabupaten Malang berupa penyediaan tangki dan terminal air.
”Selesainya lebih cepat dari perkiraan semula, dari tiga hari menjadi dua hari saja,” katanya.
Selain pipa, PDAM juga wajib memastikan kualitas air.
Untuk urusan itu, mereka melakukannya lewat Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) atau sistem kendali berbasis komputer untuk monitor.
Di tempat lain, guru besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) Prof Muhammad Bisri menyatakan, perawatan pipa PDAM memang harus rutin dilakukan.
”Apalagi kondisi jaringan pipa sudah sangat tua. Jadi harus ada pemantauan dan perawatan secara berkala,” kata dia.
Pemantauan salah satunya dilakukan dengan alat deteksi digital untuk melihat kondisi fisiknya.
Kapasitas Distribusi Air dari Kabupaten Meningkat Dengan rampungnya penggantian pipa di Desa Pulungdowo, PDAM mengklaim bila problem kebocoran bisa ditekan.
Untuk diketahui, pipa tersebut menghubungkan sumber air dari Kabupaten Malang hingga tandon PDAM di Buring, Kecamatan Kedungkandang.
Dengan pipa baru, distribusi air akan meningkat. Sebelumnya, hanya 60 liter per detik.
Sekarang bisa mencapai 120 liter per detik.
Direktur Utama Perumda Tugu Tirta Priyo Sudibyo menerangkan, setelah penggantian, perlu ada proses tapping atau penyambungan saluran.
Proses itu berlangsung mulai 7 Agustus lalu. Total ada enam titik yang dilakukan penyambungan.
”Penyambungan terakhir tadi pagi (kemarin). Sesuai target kami berlangsung selama tiga hari,” kata dia.
Proses penyambungan itu berdampak kepada 3.600 sambungan rumah (SR) yang sempat mati atau debit air mengecil.
Selama proses berlangsung, Bogank-sapaan akrabnya memastikan masyarakat tetap menerima layanan air bersih.
Sebab, PDAM telah menyiagakan 12 armada tangki yang berkeliling mendistribusikan air kepada warga yang terdampak.
Bogank juga turun langsung ke lapangan untuk mengecek apakah ada keluhan dari pelanggan.
”Selama proses penyambungan, kami distribusikan air langsung kepada warga hingga wilayah Wonokoyo,” ujarnya.
Setelah penyambungan rampung, pihaknya langsung melakukan pembukaan aliran dan normalisasi.
Dia memastikan aliran air kepada ribuan warga kembali normal pada hari ini.
”Sore ini sudah mulai normal di Buring. Bertahap akan mengalir ke bawah,” tambah pria kelahiran Surabaya itu.
Edi Suprapto, salah satu warga yang sempat terdampak berharap penggantian pipa itu membuahkan hasil.
Sebab di daerahnya air kerap mati atau debutnya mengecil.
”Biasanya kami beli di Hippam. Karena ada bantuan yang langsung ke warga, kami sangat bersyukur,” tutur warga Tlogowaru itu. (mel/adk/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana