MALANG KOTA – Kerusakant taman di kawasan Alun-Alun Tugu akibat terinjak-injak ternyata cukup parah.
Penggantian rumput dan tanaman yang rusak itu menelan biaya hingga Rp 112 juta.
Hingga kemarin (15/8), perbaikan terus dilakukan dan ditarget tuntas sebelum perayaan HUT Ke-79 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang.
Pantauan awal yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menyebut kerusakan yang terjadi mencapai 40 persen dari total luas Alun-Alun Tugu yang mencapai 1,1 hektare.
Setelah dipilah lebih lanjut, kerusakan serius yang perlu perbaikan hanya sekitar 10 persen.
Total area yang mengalami kerusakan serius itu 1.208 meter persegi.
”Sekarang progres perbaikan sudah mencapai 80 persen. Kami upayakan perbaikan bisa selesai hari ini (kemarin, red),” kata Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau DLH Kota Malang Laode K. B. Al Fitra.
Dia menjelaskan, perkiraan awal anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan berkisar antara Rp 70 juta sampai Rp 100 juta.
Faktanya, dana yang terserap meningkat hingga Rp 112 juta. Itu pun belum terhitung pajak.
Peningkatan biaya disebabkan masalah yang terjadi bukan hanya taman rusak.
DLH menemukan fakta bahwa banyak tanaman di AlunAlun Tugu yang hilang.
“Akhirnya kami perbaiki dengan rata-rata harga Rp 100 ribu per satu meter persegi. Harga itu sudah termasuk tanah yang digunakan sebagai media tanam, harga bunga, dan upah pekerja,” imbuhnya.
Menurut Laode, tanah yang dipilih adalah lapisan kedua dari sungai yang cenderung lebih subur.
Karena itu harganya terbilang tidak murah. Belum lagi harga bunga yang cenderung fluktuatif saat ini.
Seperti bunga asoka, turnera (bunga pukul delapan), bugenvil, dan krokot. Kabar yang berkembang, naiknya harga bunga itu disebabkan seluruh distributor bunga di Kota Batu banyak diborong untuk dibawa ke Ibu Kota Nusantara.
Sehingga stok bunga yang tersedia terbatas, lebih mahal, dan harus berebut.
Laode menambahkan, pihaknya harus mengganti rumput yang sebagian besar rusak karena terinjak.
Khusus rumput di Alun-Alun Tugu itu memakai jenis rumput Jepang.
Biaya untuk pekerja juga tidak murah, karena yang dipekerjakan adalah ahli taman agar bisa mengebut perbaikan.
”Sejak 12 Agustus lalu, setiap hari terdapat dua sif pekerja perbaikan Alun-Alun Tugu. Masing-masing sif melibatkan 10 pekerja,” tandasnya. (aff/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana