OKTOBER 2008, sebanyak 140 personel Pasukan Perdamaian Garuda Bhayangkara diberangkatkan ke negara Sudan.
Salah satu personel yang terpilih adalah AKP Indra Subekti, yang kini menjabat sebagai Kapolsek Gedangan, Polres Malang.
Di negara timur laut Benua Afrika itu, Indra menjaga perdamaian dengan keterampilannya sebagai penembak jitu.
Menurut Indra, seleksi masuk Pasukan Perdamaian Garuda Bhayangkara dilaksanakan sejak tiga tahun sebelumnya.
Yakni sekitar tahun 2005.
”Waktu itu saya masih ber- tugas di satuan Gegana Brimob dengan pangkat bripka,” tutur pria asli Malang itu.
Pada saat seleksi dia mendapat informasi bahwa di setiap peleton pasukan penjaga per- damaian dibutuhkan sniper ataupenembak jitu.
Kebutuhan itu cocok dengan kemampuan yang dia miliki.
Baca Juga: Ja’far Rais Abdurrahman, Mahasiswa Malang yang Dievakuasi dari Perang Sudan
Akhirnya, Indra terpilih untuk berangkat ke Sudan.
Kala itu, Sudan yang sebenarnya sudah mengakhiri pegang saudara pada 2005 kembali mengalami ketegangan.
Itu setelah kelompok pemberontak melancarkan serangan di Omdurman, kota kemba Khar toum di seberang Sungai Nil.
PBB pun mengirim petugas penjaga perdamaian, termasuk dari Indonesia.
Sesampainya di Sudan, hal yang menjadi tantangan awal adalah penyesuaian tubuh dengan suhu malam yang sangat dingin.
”Sampai minus lima derajat. Teman saya sampai ada yang mimisan,” kata pria kelahiran 1975 itu.
Salah satu tugas Indra adalah melakukan penga- walan.
Misalnya ketika ada tamu PBB yang datang.
Ada juga tugas berpatroli ke kamp- kamp pengungsian.
Dalam kondisi perang saudara, para pengungsi di negara Sudan bergantung pada pengiriman makanan dan minuman.
”Saya setahun bertugas di sana,” imbuhnya.
Salah satu hal yang berkesan baginya adalah patroli panjang selama tiga hari.
Mereka berangkat dengan sekitar 90 personel dengan wilayah mayoritas padang pasir.
Saat waktu tidur, mereka akan berhenti di pos pos pasukan lain.
Pernah juga patroli yang dilakukan Indra dan teman-temannya berpapasan dengan kelompok pemberontak.
Kalau sudah begitu, rasa khawatir sempat muncul.
”Untungnya para pemberontak itu paham bahwa kami adalah pasukan PBB. Apalagi pasukan dai Indonesia dikenal sangat baik,” tandasnya. (iza/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana