HALAMAN depan kantor Eduria di Jalan Mertojoyo, Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang selalu dipenuhi tumbuhan hijau.
Mulai dari sayuran hingga tanaman toga.
Di tempat itulah tim Eduria membuat konten-konten edukasi terkait tanaman sejak didirikan tiga tahun lalu.
Edukasi yang diunggah ke media sosial bermacam-macam, seperti tutorial membuat media tanam yang subur, mengendalikan hama, hingga teknik memberi nutrisi pada tanaman.
Platform Eduria dibentuk tujuh anak muda pada 2021 lalu dengan nama awal Tanduria.
Semula bergerak di bidang penjualan bahan-bahan pertanian, seperti bibit tanaman dan peralatan hidroponik.
Setahun berdiri, ternyata platform itu belum memberikan hasil.
Baru pada 2022 mulai banyak masyarakat yang mengikuti tren berkebun rumah.
Pesanan pun berdatangan.
Tak sedikit pula yang bertanya tentang tanaman dan cara melakukan budi daya.
Karena sering mengulang penjelasan kepada pembeli yang bertanya, mereka memutuskan membuat konten-konten edukasi terkait tanaman.
Nama Tanduria pun diubah menjadi Eduria.
Itu karena konten yang diunggah di berbagai platform media sosial fokus pada edukasi.
”Sekarang anggota Eduria sudah memiliki tugas masing- masing. Ada yang mengurus IT, marketing, ada juga yang edukasi,” ujar CEO Eduria Habib Thabrani.
Tim yang menangani edukasi, termasuk Habib, harus memiliki banyak pengetahuan tentang tanaman.
Kebetulan Habib atau yang akrab disapa Mas Bon sudah mempelajari tanaman sejak kuliah.
Walaupun sebenarnya dia merupakan lulusan Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Awalnya Habib hanya iseng membuat media tanam hidroponik.
Lama-kelamaan dia mencoba membaca peluang bisnis dari aktivitas itu.
Ternyata memang bisa menghasilkan keuntungan yang menjanjikan jika dikerjakan dengan benar.
Dia pun semakin tertarik mendalami pengetahuan tentang pertanian modern, bahkan sempat tinggal di kebun selama sekitar satu tahun.
”Waktu itu bikin rumah kecil berukuran dua 2 x 2 meter di tengah kebun di Sidoarjo. Bangun tidur langsung lihat tanaman,” tutur Pria kelahiran 1993 tersebut.
Habib juga rajin membaca buku tentang tanaman dan berguru pada orang-orang yang ahli di bidang pertanian.
Lama-kelamaan dia mampu meracik pupuk secara spesifik untuk tiap jenis tanaman.
Kelompok sayuran, tomat, dan cabai dibuatkan racikan pupuk yang berbeda. ”
Saya sampai mempelajari zat yang dapat masuk ke tanaman. Misalnya KNO3. Kaliumnya nomor atom berapa dan dapat disandingkan dengan unsur apa saja,” tuturnya.
Termasuk unsur fisika yang dibutuhkan tanaman, seperti pencahayaan.
Sebab, kebutuhan sinar matahari pada tumbuhan juga berbeda-beda.
Begitu juga dengan tingkat kelembapan.
Menurut Habib, tanaman perlu memiliki kelembapan yang pas sejak masa penyemaian , pertumbuhan, hingga pembuahan.
Jika udara terlalu lembap pada saat pembuahan, maka buah yang dihasilkan akan jelek.
”Saya sangat senang mempelajarinya karena berkaitan dengan sains,” imbuhnya.
Pada setiap memberikan edukasi, Habib selalu menyampaikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat ilmiah.
Bukan hanya tentang tanah atau airnya saja, Tetapi juga bahan di dalamnya yang dapat membuat tanaman tumbuh dengan optimal.
”Banyak sekali pengetahuan yang saya merasa harus punya cara sederhana untuk menjelaskan,” kata Habib.
Saat ini, Eduria bekerja sama dengan berbagai instansi untuk memberikan workshop tentang pertanian ke masyarakat.
Salah satunya dengan Bank Indonesia (BI).
Habib sering diundang menjadi pembicara di Jakarta hingga luar pulau seperti Pontianak.
Tim Eduria juga sering melakukan edukasi di sekolah-sekolah.
Tanaman yang digunakan untuk edukasi bermacam-macam.
Bergantung audiens.
“Seperti saat di Pontianak itu audiens-nya kalangan disabilitas. Maka kami memberikan edukasi tentang tanaman Jahe karena tidak membutuhkan perawatan ekstra seperti tanaman lainnya,” terangnya.
Habib menilai saat ini tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak bercocok tanam.
Sebab, aktivitas itu tetap bisa dilaksanakan di tempat sempit.
Misalnya dengan media hidroponik yang kini banyak dilakukan di kalangan perkotaan.
”Menanam tidak hanya bisa dilakukan petani di sawah. Edukasi tentang pertanian juga tidak harus turun ke sawah. Bisa melalui berbagai media, salah satunya media sosial,” tandasnya. (dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana