Sopir Angkot Usul Pakai Armada Lawas
MALANG KOTA - Realisasi angkot menggunakan sistem buy the service (BTS) kemungkinan bisa berubah lagi.
Sebab, sebagian sopir angkot memilih penerapanBTS bisa memakai armada yang lama.
Mereka menganggap armada lawas yang saat ini beroperasi masih layak pakai.
Ketua Serikat Sopir Indonesia (SSI) Kota Malang Stefanus Hari Wahyudi sudah sempat mengusulkan hal itu ke pemkot beberapa waktu lalu.
Dia menilai biaya untuk merealisasikan angkot BTS jauh lebih murah.
Jika meng-upgrade armada lama menggunakan AC dan pembenahan bangku kurang lebih membutuhkan biaya sebesar Rp10 juta.
Sementara perawatan rutin berkisar antara Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan.
”Itu sudah kami sampaikan ke pemkot, tapi tidak tahu kabar selanjutnya kok malah condong memilih armada baru,” ujar pria yang akrab disapa Sam Obek itu.
Jumlah armada yang layak, kata Sam Obek, masih di atas 100 unit.
Seluruhnya juga memenuhi standar, aman, dan nyaman.
Apalagi, setiap enam bulan sekali angkot melakukan uji KIR.
Mendengar rencana pengadaan armada baru, para sopir sempat panik.
”Kami pun sudah berupaya untuk melakukan balik nama ke badan hukum, rutin uji KIR, dan melakukan perawatan,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang R. Widjaja Saleh Putra mengatakan, masih mengusulkan kajian berupa anggaran sebesar Rp 40 juta.
Dana itu digunakan untuk biaya operasional kendaraan (BOK).
Terdiri dari gaji sopir, BBM, dan perawatan.
Namun, anggaran itu tidak diperuntukkan bagi satu armada. Melainkan 25 unit armada baru.
”Jadi dalam satu bulan anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 1 miliar,” terang dia.
Menurut Jaya, pihaknya melirik opsi pengadaan armada baru. Itu dengan pertimbangan beberapa daerah lain seperti Solo dan Palembang.
Di sana, pemerintah daerah melakukan pengadaan armada baru karena mempertimbangkan kondisi armada lawas.
”Kalau armada lawas kan perlu dipasang pelengkap seperti GPS dan AC. Belum lagi kalau mesinnya juga lama, biaya servisnya bisa lebih mahal,” ungkapnya.
Kendati demikian, pihaknya masih akan terus mengkaji kelebihan dan kekurangan dari beberapa skema.
Termasuk skema mengupgrade kendaraan lama.
Untuk mengupgrade kendaraan lama, pihaknya juga harus melakukan seleksi.
Agar kendaraan yang digunakan benar-benar layak. (mel/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana