Tulisan berikut tidak dimaksudkan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasa depresi dan mulai berpikir untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater. Meminta pertolongan mereka bukan berarti Anda lemah.
MALANG RAYA – Dalam sepekan terakhir terjadi empat kasus bunuh diri di Kabupaten dan Kota Malang.
Dua kasus berupa orang menabrakkan diri ke kereta api Kabupaten Malang pada Rabu pagi dan malam (9/10).
Dua kasus lainnya dilakukan dengan cara gantung diri pada Kamis malam (10/10) dan Jumat dini hari (11/10) di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, dan Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Makin memprihatinkan lantaran yang melakukan gantung diri adalah mahasiswa dan pelajar kelas VIII SMP.
Misalnya kasus bunuh diri di Desa Kasri, Kecamatan Bululawang.
Korban merupakan siswi SMP berinisial DA, 14.
Aksi itu dilakukan DA setelah sebelumnya sempat berselisih paham dengan orang tuanya.
Hasil penyelidikan polisi menyebutkan, DA sempat berbincang dengan orang tuanya pada Rabu malam (9/10), sekitar pukul 22.00.
Saat itu terjadi selisih paham tentang orang tua DA yang sibuk kerja.
Setelah itu DA pamit untuk tidur.
Keesokan harinya (10/10), sekitar pukul 02.30, ibu korban terbangun dan mendapati pintu kamar DA dalam kondisi dikunci.
Padahal biasanya tidak pernah dikunci.
”Ibu korban berusaha mengetuk pintu kamar anaknya, tapi tidak ada jawaban,” ujar Kapolsek Bululawang Kompol Ainun Djariyah.
Karena khawatir, Ibu korban berusaha mendobrak pintu kamar dan menimbulkan suara keras.
Tapi tetap tidak ada respons dari dalam kamar.
Dengan usaha yang lebih keras, pintu itu akhirnya terbuka.
Saat itulah terlihat DA sudah tak bernyawa dalam posisi tergantung.
Diu leher korban terlilit tali dari jilbab segi empat berwarna cokelat yang dikaitkan pada teralis jendela kamar setinggi dua meter.
Sementara tinggi korban berkisar 1,5 meter.
”Posisi tubuh korban melayang setinggi setengah meter,” lanjut Ainun.
Di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Yang ada adalah tanda-tanda orang meninggal karena bunuh diri.
Seperti lidah yang menjulur, bekas jeratan di leher, serta kemaluan korban mengeluarkan kotoran.
“Orang tua korban menolak untuk dilakukan visum,” lanjut perwira dengan satu melati emas di pundaknya itu.
Jenazah korban langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) di sekitar rumah korban.
Pamit di Grup Percakapan.
Sementara itu, korban gantung diri di Jalan Karimun Jawa, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen adalah mahasiswa berinisial AS, 22.
Dia ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di rumahnya kemarin (11/10), sekitar pukul 00.10 dini hari.
Kasi Humas Polresta Malang Kota Ipda Yudi Risdianto mengatakan, AS pulang ke rumahnya di Kasi. pada Kamis sore (10/10) pukul 17.45.
Sang ayah, SK, sempat melihat AS hendak melaksanakan salat Magrib.
Setelah itu AS keluar rumah menggunakan motor.
Pria berusia 70 tahun itu pun tidak bertemu lagi dengan AS sampai pukul 00.00.
SJ sempat berpikir anaknya belum pulang setelah mendapat telepon dari kakak AS yang tidak tinggal satu rumah.
Sang kakak meminta ayahnya mencari AS yang sempat menyampaikan pesan perpisahan di grup keluarga.
Namun, saat hendak pergi mencari ke luar rumah, pandangan SM terhenti pada tubuh AS yang tergantung di pintu menuju lantai dua.
Di leher korban terlilit tali berwarna putih.
Baca Juga: Bermasalah dengan Istri, Warga Lesanpuro Malang Bukannya Cari Solusi malah Pilih Gantung Diri
”Ayah korban kemudian memanggil saudara-saudaranya untuk menurunkan korban,” jelas Yudi.
Saat ditemukan, jenazah AS menggunakan baju hitam dan celana putih.
Di tangga rumah juga ditemukan sepasang sandal berwarna hitam milik AS.
Jenazah kemudian dibawa menuju RSI Malang.
Polisi tidak menemukan motif AS bunuh diri lantaran pihak keluarga menolak dilakukan visum. (aff/mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana