Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pertashop di Kota Malang Semakin Menjamur dalam Tiga Tahun Terakhir

Aditya Novrian • Senin, 14 Oktober 2024 | 00:05 WIB
ADA DI MANA-MANA: Operator Pertashop di Jalan KH Malik Dalam mengisi tangki BBM seorang konsumen. (DARMONO/RADAR MALANG)
ADA DI MANA-MANA: Operator Pertashop di Jalan KH Malik Dalam mengisi tangki BBM seorang konsumen. (DARMONO/RADAR MALANG)

MALANG KOTA – Pertumbuhan Pertashop selama beberapa tahun terakhir makin menjamur.

Selama tiga tahun terakhir, sedikitnya ada 42 Pertashop baru yang beroperasi di Malang Raya, termasuk di Kota Malang.

Berbeda dengan 2021 lalu ketika jumlah Pertashop masih sebanyak 21 titik.

Dengan demikian, jumlah keseluruhan unit bisnis milik Pertamina itu sudah mencapai 63 titik.

Puluhan Pertashop itu mayoritas beroperasi di daerah terpencil.

Community Relations Pertamina Patra Niaga Regional Jatim-Bali Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Taufiq Kurniawan mengatakan, jumlah Pertashop itu kemungkinan masih bisa bertambah.

”Tujuannya sebagai pusat perekonomian baru di daerah terpencil seperti di Kelurahan Buring, Kedungkandang,” ujar dia, kemarin.

Selain itu, ada beberapa Pertashop lain yang tersebar hingga ke kawasan yang cukup jauh.

Misalnya saja di Desa Sumber Brantas, Kota Batu.

Kemudian Kecamatan Donomulyo, dan Kecamatan Sitiarjo, Kabupaten Malang.

Kedepan pihaknya belum menerima pengajuan Pertashop baru.

Karena bisnis bahan bakar seperti ini juga melihat karakteristik kawasan.

”Misalnya kalau di Kelurahan Buring kan cukup ramai. Banyak orang di sekitar yang membutuhkan hingga wisatawan yang ke arah Bromo yang mencari bahan bakar,” terang Taufiq.

Di samping kondisi kawasan, traffic kebutuhan BBM juga melihat harga sekarang.

Saat ini, harga Pertamax non-subsidi yang tersedia di Pertashop di angka Rp 12.000.

Sementara selama tiga bulan sebelumnya mencapai Rp 13.650.

Kondisi itu dibenarkan pemilik Pertashop di Jalan KH Malik Dalam Sylvia Nurfitriyana.

Sejak harga Pertamax non-subsidi turun, penjualan mencapai 800-900 liter per hari.

”Ini lebih baik dibanding sebelumnya yang hanya 700 liter per hari,” sebutnya.

Sementara itu, selama satu bulan kebutuhan bensin bisa mencapai 24.000 liter.

Omzet yang diperoleh bisa Rp 12 juta per kiloliter (KL) dalam sebulan. (mel/adn)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#pertumbuhan #Menjamur #Pertashop #Kota Malang