MALANG KOTA – Pekerja non-fixed income (berpenghasilan tidak tetap) kini mulai berani melakukan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya penyaluran kredit rumah subsidi itu hanya dilirik pekerja berpenghasilan tetap (fixed income).
Branch Manager Bank Tabungan Negara (BTN) Malang Turmono mengatakan, sebanyak 30 persen nasabahnya yang memilih KPR rumah subsidi adalah pekerja non-fixed income.
Memang ada syarat khusus yang harus dipenuhi.
”Salah satunya adalah penghasilan maksimal Rp 7 juta bagi debitur yang belum menikah dan Rp 8 juta bagi yang sudah menikah,” jelas dia.
Tahun ini, setiap bulannya ada 47 hingga 48 unit rumah subsidi yang terealisasi melalui BTN Malang.
Menurutnya, tidak hanya KPR FLPP, KPR untuk rumah komersial juga banyak dipilih.
Di tempat lain, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Malang Dony Ganatha menyebut pekerjaan masyarakat saat ini bermacam-macam.
Terutama generasi milenial dan Gen Z. Mereka banyak yang bekerja sebagai freelance hingga pekerja non-pegawai.
”Mereka kan masuk pekerja informal, tidak memiliki gaji tetap,” tuturnya.
Namun penghasilannya sudah mencukupi untuk cicilan KPR subsidi.
Sehingga kalangan tersebut juga banyak disasar oleh pengembang rumah subsidi.
Dengan harga rumah Rp 166 juta hingga Rp 240 juta dan uang muka hanya 1 persen, rumah subsidi mudah dijangkau oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Tidak hanya rumah subsidi, pekerja non-fixed income tersebut juga tak jarang memilih rumah komersial.
”Karena lokasi rumah yang diinginkan berada dekat kota,” ungkap Dony.
Sedangkan lokasi rumah subsidi hanya tersisa di daerah Kabupaten Malang. (dur/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana