Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemkot Malang Waspadai Empat Titik Rawan Banjir

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 15 Oktober 2024 | 02:00 WIB
Photo
Photo

Berharap Proyek Drainase dan Bozem Kurangi Genangan

MALANG KOTA – Banjir dan genangan air masih menghantui warga Kota Malang menjelang musim hujan.

Apalagi hingga tahun ini masih ada empat titik langganan banjir di Kota Malang.

Pemkot Malang berharap jaringan drainase dan bozem yang sudah beroperasi bisa mengurangi banjir dan genangan air.

Salah satu kawasan yang penanganannya belum optimal adalah di Jalan Soekarno-Hatta (Soehat).

Saat hujan turun pada 24 September lalu, terjadi genangan air yang sangat mengganggu pengguna jalan di Jembatan Soehat.

Ketinggian genangan sekitar 10 cm.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang, Dandung Julhardjanto, menjelaskan bahwa banjir kala itu terjadi karena jaringan drainase tak mampu menampung kiriman dari atas, yaitu dari wilayah Mojolangu.

Pihaknya sudah merencanakan perbaikan sejak 2023 lalu.

Namun, karena belum ada anggaran, peningkatan kapasitas drainase itu belum terealisasi.

”Kami sudah bersurat ke Pemprov Jatim, tapi belum dianggarkan hingga 2024. Kebutuhan anggarannya untuk peningkatan kapasitas drainase Soehat sekitar Rp 125 miliar,” jelasnya.

Dana sebesar itu untuk pembangunan gorong-gorong sepanjang 1,8 kilometer.

Dandung berharap anggaran peningkatan drainase Soehat bisa masuk pada APBD Pemprov Jatim 2025.

”Pak Pj Wali Kota menginstruksikan agar dana itu diusulkan kembali akhir tahun ini. Mudah-mudahan bisa disetujui,” paparnya.

Untuk sementara waktu, Pemkot Malang mengandalkan Bozem Tunggulwulung dalam upaya pengurangan banjir di Jalan Soehat.

Daya tampung bozem itu mencapai 2.871 meter kubik.

Diperkirakan bisa mengurangi sekitar 20 persen genangan air di Jalan Soehat.

Titik langganan banjir lain yang akan dikurangi genangannya adalah Jalan Galunggung.

Hingga saat ini, kawasan tersebut selalu tergenang ketika hujan turun.

Sebab, Jalan Galunggung berlokasi di cekungan.

Untuk mengurangi genangan, tahun ini Pemkot Malang membangun sudetan di Jalan Sigura-gura dengan panjang sekitar 600 meter.

Sudetan itu diprediksi mampu mengurangi 30 persen genangan Jalan Galunggung.

”Setelah ada sudetan, air dari Jalan Veteran tidak langsung ke bawah (Jalan Galunggung, red). Kami alihkan ke Jalan Sigura-gura dan berakhir di Kali Metro,” ujarnya.

Dandung memastikan bahwa pembangunan sudetan itu cukup bermanfaat.

Namun, ada dampak lain yang ditimbulkan ketika proses pembangunan dilakukan, yakni kemacetan, sebab Jalan Sigura-gura dekat kawasan kampus.

Selanjutnya, tahun depan Pemkot Malang mengupayakan kelanjutan pembangunan drainase atau jacking Jalan Bondowoso.

Dandung menuturkan, akhir tahun ini akan dilakukan uji forensik pada proyek jaringan yang sempat mandek sejak 2013 lalu.

Awal tahun depan bakal dilakukan pembahasan Detail Engineering Design (DED).

Jika memungkinkan, anggaran lanjutan drainase dibahas pada Perubahan APBD 2025.

Sementara itu, dua titik lain yang berisiko tergenang air saat hujan adalah Jalan Raya Langsep dan Kawasan Sawojajar.

Dandung menekankan bahwa pembangunan drainase di dua lokasi itu pada 2023 lalu sudah efektif menekan banjir.

Hanya saja, terkadang masih tersumbat sampah.

”Tim kami akan turun ke lapangan untuk mengecek saluran yang baru dibangun. Ketika ada tumpukan sampah, drainase pasti tidak akan berfungsi,” tandasnya.

Ratusan Kasus

Program penanganan banjir selalu dilakukan Pemkot Malang setiap tahun.

Faktanya, jumlah kejadian selalu meningkat selama lima tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, kasus terbanyak terjadi pada 2023, dengan jumlah mencapai 224 kejadian banjir.

Tahun ini, jumlah kejadian banjir juga tak bisa diremehkan.

Hingga September lalu, sudah mencapai 139 kejadian.

Angka itu masih berpotensi meningkat jika tidak ada antisipasi dan pencegahan, apalagi sebentar lagi sudah kembali memasuki musim hujan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Malang, Surya Adhi Nugroho, mengatakan pihaknya mewaspadai beberapa wilayah rawan banjir, antara lain di Kelurahan Sawojajar dan Kelurahan Purwantoro.

”Sepanjang tahun ini, di Kelurahan Sawojajar sudah terjadi sekitar 21 banjir. Sementara di Kelurahan Purwantoro mencapai 19 kejadian banjir,” beber dia.

Beberapa kawasan lain juga tetap mendapat perhatian, seperti Kelurahan Bareng, Kelurahan Jatimulyo, Kelurahan Gading Kasri, Kelurahan Penanggungan, Kelurahan Gadang, dan lain-lain.

Biasanya, genangan air di wilayah-wilayah itu berkisar antara 10 sentimeter sampai 60 sentimeter.

Air baru surut setelah 15 menit, bahkan satu jam jika hujan berlangsung cukup lama dan deras.

”Sebelum musim hujan, kami mendorong perangkat daerah terkait untuk melakukan antisipasi, seperti normalisasi saluran,” ujar mantan Kepala Bidang Bina Marga DPUPRPKP Kota Malang itu.

Jika tidak dilakukan antisipasi, banjir bisa menimbulkan kerugian dalam jumlah besar.

Seperti pada 2023 lalu, kerugian akibat banjir diperkirakan mencapai Rp 114,3 juta.

Paling besar terjadi akibat banjir tanggal 24 Maret di Jalan Simpang Kepuh Utara, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, dengan nilai kerugian mencapai Rp 35,1 juta.

”Kalau untuk tahun 2024 belum ada kejadian banjir yang sampai menyebabkan kerugian,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang itu.

Saat ini, pihaknya memantau peningkatan debit sungai menggunakan 23 alat early warning system (EWS).

Alat tersebut tersebar di beberapa kelurahan, seperti di Jalan Sudimoro, Jalan Danau Ranu, Jalan Ahmad Yani, Jalan Bareng, dan Jalan Bukit Barisan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kedaruratan BPBD Kota Malang, Khabibah, menambahkan bahwa jika ada laporan dari masyarakat atau terjadi peningkatan debit sungai, biasanya mereka menyiagakan tim kaji cepat.

Kemudian berkomunikasi dengan tim unit reaksi cepat, kecamatan tangguh, dan kelurahan tangguh untuk penanganan dampak bencana.

”Kami dibantu lima tim kecamatan tangguh yang masing-masing memiliki 20 personel. Ada juga 57 tim kelurahan tangguh yang masing-masing juga memiliki 20 personel,” tandasnya. (adk/mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Waspadai #empat titik rawan banjir #Pemkot Malang #Kota Malang